Harga Minyak Mentah Masih Rentan. WTI Naik Tipis

Kendati meningkat tipis, harga minyak mentah masih rentan mengalami penurunan seiring meningkatnya kecemasan atas surplus pasokan, terutama dari AS.
Hafiyyan | 21 April 2017 14:18 WIB
Harga minyak turun - nicholloils.com

Bisnis.com, JAKARTA--Kendati meningkat tipis, harga minyak mentah masih rentan mengalami penurunan seiring meningkatnya kecemasan atas surplus pasokan, terutama dari AS.

Pada Jumat (21/4/2017) pukul 13:35 WIB, harga minyak WTI kontrak Juni 2017 naik 0,1 poin atau 0,2% menuju US$50,81 per barel. Sebelumnya, harga mengalami pelemahan dalam empat sesi perdagangan terakhir.

Michael McCarthy, chief markets strategist CMC Markets di Sydney, mengatakan sentimen peningkatan produksi minyak AS mendominasi faktor-faktor lain seperti pemangkasan suplai OPEC. Akibatnya, harga minyak mentah kembali tertekan.

"Produksi AS menggantikan pasokan dari OPEC sehingga membebani harga," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (21/4/2017).

Pada Rabu (19/4/2017) waktu setempat, U.S. Energy Information Administration (EIA) melansir data stok minyak AS dalam sepekan yang berakhir Jumat (14/4/2017) turun 1,03 juta barel menjadi 532,37 juta barel. Namun, stok bensin Paman Sam meningkat 1,5 juta barel sehingga mengindikasikan adanya penurunan permintaan.

Sebelumnya, mulai 10 Maret 2017 stok minyak AS sepekan selalu menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah sejak EIA melakukan pencatatan pada 1982. Namun, dalam dua pekan terakhir volume persediaan menunjukkan tren menurun.

Sementara tingkat produksi minyak AS naik 17.000 barel menuju 9,25 juta barel per hari (bph), yang menjadi level tertinggi sejak Agustus 2015. Sebelumnya pada Desember 2016, AS konsisten menahan produksi di level 8,7 juta bph.

Sentimen positif bagi pasar datang dari OPEC yang berencana memperpanjang pemangkasan produksi. Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih menyampaikan pada Kamis (20/4/2017), penurunan suplai dari organisasi dan negara-negara produsen lain dalam tiga bulan pertama 2017 kurang memuaskan.

Tujuan pemangkasan produksi, sambung Al-Falih, untuk mengurangi persediaan pasokan ke bawah level rata-rata selama lima tahun. Oleh karena itu, pengurangan produksi yang sebelumnya berlangsung Januari 2017-Juni 2017 dengan target sekitar 1,8 juta bph bakal diperpanjang.

Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, saat ini pasar masih melihat faktor fundamental sebagai penggerak utama harga minyak ke depan, terutama dari AS dan OPEC. Artinya, pasar memantau sejauh mana tingkat suplai dan permintaan global.

"Faktor dolar AS atau pun geopolitik hanya sementara memengaruhi harga. Kecuali bila benar-benar masalah geopolitik itu memengaruhi fundamental," ujarnya, Rabu (20/4/2017).

Rencana OPEC melanjutkan pemangkasan produksi juga belum mendapatkan respons terlalu besar, karena isu ini sudah berembus sejak bulan kedua 2017.

Putu memprediksi, harga minyak WTI cenderung bergerak melemah terbatas sampai akhir bulan ini ke posisi US$49-US$50,7 per barel. Dalam 10 hari ke depan, harga diperkirakan bergerak dalam rentang yang rapat, yakni US$49-US$52,50 per barel.

Sampai akhir semester I/2017, harga berpeluang mencapai level US$55 per barel jika keputusan rapat OPEC pada 25 Mei memberikan hasil yang memuaskan dan stok minyak AS mengalami penurunan. Bahkan, break out di atas US$55 dapat membuka jalan bagi WTI menuju US$60 per barel pada tahun ayam api.

Tag : Harga Minyak
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top