Meski Kinerja Melemah, Perusahaan Pelayaran Maju IPO

Kinerja industri pelayaran yang tidak begitu menggembirakan tahun lalu tidak memupus niat perusahaan pelayaran untuk menggelar penawaran umum perdana di lantai bursa. Setelah bulan lalu PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk. melantai di bursa, kini bersiap PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk.
Emanuel B. Caesario | 12 April 2017 21:40 WIB
Ilustrasi - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Kinerja industri pelayaran yang tidak begitu menggembirakan tahun lalu tidak memupus niat perusahaan pelayaran untuk menggelar penawaran umum perdana di lantai bursa. Setelah bulan lalu PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk. melantai di bursa, kini bersiap PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk.

Pelayaran Tamarin Samudra atau PTS sudah berdiri sejak 1998 dan bergerak di bidang jasa penyewaan kapal penunjang kegiatan lepas pantai bagi industri migas. Saat ini, perseroan memiliki dan mengoperasikan empat unit kapal akomodasi jenis Accomodation Work Barges (AWB) dan satu unit jenis Anchor Handling Tug Supply (AHTS).

Leo A. Tangkilisan, Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis PTS mengatakan, kinerja perseroan tahun lalu memang tidak begitu menggembirakan, seperti juga yang dialami oleh kebanyakan perusahaan sejenis akibat bisnis migas yang tertekan.

Namun, kabar baiknya harga minyak saat ini mulai membaik dan bertahan di atas US$50 dollar per barrel. Hal ini memberi harapan bagi perusahaan pelayaran penunjang bisnis migas bagi pemulihan kinerja di tahun ini.

“Perusahaan kami valuable dengan aset lebih dari Rp1 triliun. Harga minyak sedang tren up dan indeks saham juga sedang tren up. Itu lah mengapa kami putuskan go public sekarang setelah 20 tahun beroperasi,” katanya dalam paparan publik dalam rangka IPO, Rabu (12/4/2017).

PTS berniat melepas saham baru maksimal satu miliar lembar kepada publik, atau 25% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum. Nilai nominal ditetapkan Rp100 per saham, sementara harga penawaran ditargetkan di kisaran Rp105 hingga Rp170 per saham.

Dengan begitu, target dana segar yang diperoleh berkisar antara Rp105 miliar hingga Rp170 miliar. Dana ini semuanya akan dimanfaatkan untuk modal kerja pembiayaan suku cadang peralatan dan perlengkapan kapal.

Perseroan menunjuk PT Investindo Nusantara Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek, sementara penjamin emisi efek akan ditentukan kemudian. Rencananya, masa penawaran awal atau book building akan berlangsung dari tanggal 13-19 April 2017.

PTS memang melantai di bursa dengan membawa laporan keuangan yang tidak begitu baik. Per Oktober 2016, perseroan mencatatkan pendapatan US$10,36 juta. Nilai itu turun 51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$21 juta.

Perseroan membukukan rugi bersih hingga US$6,4 juta, berbalik dari kinerja tahun sebelumnya yang mencatatkan laba bersih US$4,28 juta. Namun, tahun lalu perseroan telah merestrukturisasi utang perseroan dengan mengkonversinya menjadi penyertaan modal  sehingga rasio utang terhadap ekuitas menjadi 1,1 dari semula 2,2.

“Jadi, dengan harga saham yang kami tawarkan, price to book value-nya itu di bawah satu. Kami tidak menghitung dari PER-nya,” katanya.

Meski begitu, dengan asumsi harga minyak tahun ini akan terus membaik, perseroan menargetkan pendapatan tahun ini akan kembali meningkat menjadi sekitar US$12,7 juta dengan laba bersih sekitar US$800 ribu.

Perseroan pun berkomitmen untuk membayar dividen kas kepada pemegang saham perseroan maksimal 20% atas laba bersih tahun berjalan mulai tahun buku 2017.

Perseroan sudah memenangkan satu kontrak baru di awal tahun ini dari Petronas senilai US$18 juta untuk jangka waktu 5 tahun. Perseroan juga tengah mengikuti tender dari PT Pertamina Hulu Energi. Jika kontrak terakhir ini dimenangkan, maka seluruh kapal perseroan akan beroperasi tahun ini.

Kontrak-kontrak kapal perseroan semua untuk jangka panjang. Oleh karena itu, perseroan berwacana untuk menambah kapal baru sekiranya permintaan akan meningkat. Penambahan kapal rencananya akan direalisasikan tahun depan.

Bima Setiaji, Analis NH Korindo menilai, keputusan perusahaan pelayaran untuk melantai tahun ini bukan keputusan yang buruk. Menurutnya, beberapa emiten pelayaran juga memandang tahun ini dengan lebih optimistis, tercermin dari target pertumbuhan omset dan laba antara 20% hingga 40%.

Membaiknya harga minyak dan komoditas lainnya memicu optimism pemulihan kinerja emiten kapal. Hal ini memberi indikasi positif bagi prospek emiten-emiten baru di sektor ini juga.

“Kapasitas produksi tentu akan meningkat karena harga yang membaik dan ini akan meningkatkan jumlah angkutan kapal logistik dan akomodasi. Dengan begitu, pendapatan mereka juga akan membesar,” katanya saat dihubungi, Rabu (12/4).

Dengan demikian, PTS punya harapan sahamnya akan diminati investor publik dalam aksi korporasi ini. Meski tahun lalu merugi, perseroan masih memiliki fundamental keuangan serta reputasi yang baik, khususnya dalam penangan masalah keamanan.

Dana IPO ini pun ditujukan untuk peningkatan kualitas pelayanan dengan pengamanan suku cadang kapal sehingga menjamin operasional perseroan berjalan lebih baik dan keselamatan penyewa pun terjamin. Selanjutnya, tinggal keputusan investor, entah ingin melirik saham PTS atau tidak.

 

Indikasi Jadwal Penarawan Umum Perseroan

Book Building     : 13-19 April 2017

Pernyataan efektif dari OJK         : 28 April 2017

Masa Penawaran                             : 3—5 Mei 2017

Tanggal Penjatahan                        : 8 Mei 2017

Tanggal Refund                                 : 9 Mei 2017

Distribusi Saham secara Elektronik           : 9 Mei 2017

Listing/Pencatatan di BEI                              : 10 Mei 2017

Tag : ipo
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top