Harga Masih Sulit Panas

Harga minyak mentah berhenti memanas dari dua sesi sebelumnya seiring dengan meningkatnya pasokan dari Amerika Serikat. Faktor tersebut mengalahkan sentimen positif dari berkurangnya suplai OPEC dan meningkatnya konsumsi Paman Sam
Hafiyyan | 31 Maret 2017 10:04 WIB
Pengeboran minyak lepas pantai. - .Bloomberg/Angel Navarrete

JAKARTA – Harga minyak mentah berhenti memanas dari dua sesi sebelumnya seiring dengan meningkatnya pasokan dari Amerika Serikat. Faktor tersebut mengalahkan sentimen positif dari berkurangnya suplai OPEC dan meningkatnya konsumsi Paman Sam.

Pada perdagangan Kamis (30/3) pukul 16:06 WIB, harga minyak WTI kontrak Mei 2017 berada di posisi US$49,38 per barel, turun 0,26% atau 0,13 poin. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), harga melemah 11,9%.

Sementara itu, harga minyak Brent kontrak Mei 2017 juga merosot 0,5% atau 0,26 poin menuju US$52,16 per barel, turun 10,1% ytd.

Michael McCarthy, Chief Market Strategist CMC Markets, menyampaikan sebetulnya pergerakan harga minyak mentah sejak awal pekan ini didorong oleh rencana OPEC yang akan memperpanjang pemangkasan produksi. Sebelumnya, organisasi hanya akan memotong produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi 32,5 juta bph pada Januari – Juni 2017.

Dalam waktu dekat sentimen positif juga datang dari Amerika Serikat. Pada Rabu (29/3), US Energy Information Administration (EIA) melaporkan, persediaan bensin Paman Sam dalam sepekan yang berakhir Jumat (24/3) turun 3,75 juta barel.

Sementara itu, proses pemurnian naik 425.000 barel menjadi 16,2 juta bph. Menurut EIA, ini merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2014. McCarthy mengatakan, sentimen dari AS meningkatkan proyeksi bertumbuhnya permintaan.

“Ini positif untuk pasar global ketika permintaan AS meningkat. Sekarang ada dasar yang cukup kuat untuk harga di atas level US$47,5 per barel,” tuturnya, Kamis (30/3).

Kendati demikian, sentimen negatif dari bertumbuhnya suplai AS membatasi reli harga minyak. Berdasarkan data EIA, pekan lalu stok minyak meningkat 867.000 barel menjadi 533,87 juta barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak EIA melakukan pencatatan pada Agustus 1982.

Dalam waktu yang sama, tingkat produksi minyak AS naik 18.000 barel menuju 9,14 juta barel per hari (bph), yang menjadi level tertinggi sejak Februari 2016. Sebelumnya pada Desember 2016, AS konsisten menahan produksi di level 8,7 juta bph.

Produksi OPEC

Sementara itu, survei Reuters melaporkan kemungkinan produksi minyak OPEC akan merosot selama 3 bulan berturut-turut pada Maret 2017 menjadi 32,01 juta bph, turun sebanyak 230.000 bph dari Februari.

Kepatuhan organisasi dalam memangkas produksi yang sudah mencapai 95% terbilang memuaskan pasar. Pasalnya, pemotongan suplai OPEC terakhir kali dilakukan pada 2009.

OPEC dan negara produsen minyak lainnya yang sepakat memangkas produksi sebesar 1,8 juta bph pada Januari – Juni 2017 pun berencana memperpanjang periode pembatasan suplai. Rencana ini dibahas dalam rapat di Kuwait pada Minggu (26/3).

Setelah pertemuan di Kuwait, kesepakatan perpanjangan pemangkasan produksi akan diputuskan dalam rapat para menteri negara anggota OPEC pada 25 Mei 2017 di Wina, Austria. Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo menyampaikan kesepakatan antara OPEC dan non-OPEC dilakukan secara bertahap, tetapi tetap berusaha mengembalikan keseimbangan pasar minyak mentah.

Mark Watkins, manajer investasi U.S. Bank Private Client Group, mengatakan upaya OPEC dalam menyeimbangkan suplai membuat pasar bersikap optimistis terhadap prospek harga minyak. Namun, faktor yang cukup liar ialah peningkatan produksi di wilayah Amerika Utara yang meredam sentimen pemangkasan pasokan dari OPEC.

“Ada upaya produsen di Amerika Utara untuk memacu produksi shale oil dengan memanfaatkan harga yang lebih tinggi,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, harga minyak juga mendapat dorongan tenaga dari terhambatnya produksi Libya akibat pemblokiran tambang Sharara dan Wafa oleh pengunjuk rasa bersenjata. Faktor tersebut mengurangi produksi hingga 250.000 bph.

Abhishek Deshpande, Chief Energy Analyst Natixis, dalam publikasi risetnya memaparkan kepatuhan pemangkasan produksi OPEC sudah mencapai 99% pada Februari 2017. Namun, ada indikasi tingkat suplai bakal pulih seiring dengan meredanya konflik di Nigeria dan Libya.

Natixis memperkirakan rasio kepatuhan 13 negara anggota OPEC merosot pada semester II/2017 menuju 70%, sehingga tingkat kepatuhan pemangkasan produksi sepanjang tahun diperkirakan menjadi sebesar 82%. Pada tahun ini, produksi harian organisasi diperkirakan turun 238.000 bph menjadi 32,15 juta bph.

Dalam skenario menengah Natixis, harga minyak mentah WTI sampai akhir 2017 diperkirakan sebesar US$63 per barel, dan Brent senilai US$65 per barel. Harga WTI akan memanas pada 2018 menjadi US$73 per barel, dan Brent menuju US$74 per barel. (Reuters/ Bloomberg)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Sumber : Bisnis Indonesia (31/3/2017)
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top