Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sentimen AS Tekan Harga Minyak

Harga minyak mentah berhenti memanas dari dua sesi sebelumnya seiring dengan meningkatnya pasokan dari Amerika Serikat. Faktor tersebut mengalahkan sentimen positif dari berkurangnya suplai OPEC dan meningkatnya konsumsi Paman Sam.nn
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 30 Maret 2017  |  20:22 WIB
Ilustrasi - Binsis
Ilustrasi - Binsis

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga minyak mentah berhenti memanas dari dua sesi sebelumnya seiring dengan meningkatnya pasokan dari Amerika Serikat. Faktor tersebut mengalahkan sentimen positif dari berkurangnya suplai OPEC dan meningkatnya konsumsi Paman Sam.

Pada perdagangan Kamis (30/3/2017) pukul 16:06 WIB, harga minyak WTI kontrak Mei 2017 berada di posisi US$49,38 per barel, turun 0,26% atau 0,13 poin. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), harga melemah 11,9%.

Sementara harga minyak Brent kontrak Mei 2017 juga merosot 0,5% atau 0,26 poin menuju US$52,16 per barel, turun 10,1% ytd.

Michael McCarthy, chief markets strategist CMC Markets, menyampaikan sebetulnya harga minyak mentah sejak awal pekan ini didorong oleh rencana OPEC yang akan memperpanjang pemangkasan produksi. Sebelumnya, organisasi hanya akan memotong produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi 32,5 juta bph pada Januari--Juni 2017.

Sementara dalam waktu dekat, sentimen positif juga datang dari Amerika Serikat. Pada Rabu (29/3), US Energy Information Administration (EIA) melaporkan, persediaan bensin Paman Sam dalam sepekan yang berakhir Jumat (24/3) turun 3,75 juta barel.

Sementara proses pemurnian naik 425.000 barel menjadi 16,2 juta bph. Menurut EIA, ini merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2014. McCarthy mengatakan, sentimen dari AS meningkatkan proyeksi bertumbuhnya permintaan.

"Ini positif untuk pasar global ketika permintaan AS meningkat. Sekarang ada dasar yang cukup kuat untuk harga di atas level US$47,5 per barel," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/3/2017).

Kendati demikian, sentimen negatif dari bertumbuhnya suplai AS membatas reli harga minyak. Berdasarkan data EIA, pekan lalu stok minyak meningkat 867.000 barel menjadi 533,87 juta barel. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak EIA melakukan pencatatan pada Agustus 1982.

Dalam waktu yang sama, tingkat produksi minyak AS naik 18.000 barel menuju 9,14 juta barel per hari (bph), yang menjadi level tertinggi sejak Februari 2016. Sebelumnya pada Desember 2016, AS konsisten menahan produksi di level 8,7 juta bph.

Produksi OPEC
Sementara itu, survei Reuters melaporkan kemungkinan produksi minyak OPEC akan merosot dalam tiga bulan berturut-turut pada Mei 2017 menjadi 32,01 juta bph, turun 230.000 bp dari Februari.

Kepatuhan organisasi dalam memangkas produksi yang sudah mencapai 95% terbilang memuaskan pasar. Pasalnya, pemotongan suplai OPEC terakhir kali dilakukan pada 2009.

OPEC dan negara produsen minyak lainnya yang sepakat memangkas produksi sebesar 1,8 juta bph pada Januari--Juni 2017 pun berencana memperpanjang periode pembatasan suplai. Rencana ini dibahas dalam rapat di Kuwait pada Minggu (26/3).

Setelah pertemuan di Kuwait, direncanakan kesepakatan perpanjangan pemangkasan produksi akan diputuskan dalam rapat para menteri negara anggota OPEC pada 25 Mei 2017 di Wina, Austria. Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo menyampaikan kesepakatan antara OPEC dan non-OPEC dilakukan secara bertahap, tetapi tetap berusaha mengembalikan keseimbangan pasar minyak mentah.

Mark Watkins, manajer investasi U.S. Bank Private Client Group, mengatakan upaya OPEC dalam menyeimbangkan suplai membuat pasar bersikap optimistis terhadap prospek harga minyak. Namun, faktor yang cukup liar ialah peningkatan produksi di wilayah Amerika Utara yang meredam sentimen pemangkasan pasokan dari OPEC.

"Ada upaya produsen di Amerika Utara untuk memacu produksi shale oil dengan memanfaatkan harga yang lebih tinggi," ujarnya seperti dikutip dari Reuters.

Dalam waktu dekat, harga minyak juga mendapat dorongan tenaga dari terhambatnya produksi Libya akibat pemblokiran tambang Sharara dan Wafa oleh pengunjuk rasa bersenjata. Faktor tersebut mengurangi produksi hingga 250.000 bph.

Abhishek Deshpande, Chief Energy Analyst Natixis, dalam publikasi risetnya memaparkan kepatuhan pemangkasan produksi OPEC sudah mencapai 99% pada Februari 2017. Namun, ada indikasi tingkat suplai bakal pulih seiring dengan meredanya konflik di Nigeria dan Libya.

Natixis memperkirakan rasio kepatuhan 13 negara anggota OPEC merosot pada semester II/2017 menuju 70%, sehingga sepanjang tahun ayam api sebesar 82%. Pada tahun ini, produksi harian organisasi diperkirakan turun 238.000 bph menjadi 32,15 juta bph.

Dalam skenario menengah Natixis, harga minyak mentah WTI sampai akhir 2017 diperkirakan sebesar US$63 per barel, dan Brent senilai US$65 per barel. Harga WTI akan memanas pada 2018 menjadi US$73 per barel, dan Brent menuju US$74 per barel.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top