Laba Ciputra Terkoreksi 32,4%

Tekanan terhadap bisnis properti dua tahun terakhir berimbas pada penurunan laba bersih konsolidasian PT Ciputra Development Tbk. sepanjang 2016 sebesar 32,4%, dari Rp1,28 triliun pada 2015 menjadi Rp867,6 miliar tahun lalu.
Emanuel B. Caesario | 30 Maret 2017 20:22 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan terhadap bisnis properti dua tahun terakhir berimbas pada penurunan laba bersih konsolidasian PT Ciputra Development Tbk. sepanjang 2016 sebesar 32,4%, dari Rp1,28 triliun pada 2015 menjadi Rp867,6 miliar tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, penurunan laba bersih tidak terlepas dari penurunan top line perseroan sebesar 10,3%, dari Rp7,51 triliun pada 2015 menjadi Rp6,74 triliun tahun lalu. Laba kotor juga turun 11,7%, dari Rp3,72 triliun pada 2015 menjadi Rp3,28 triliun pada 2016.

Tekanan terhadap laba bersih perseroan terutama disebabkan karena beban-beban yang justru meningkat di saat pendatapan menurun, seperti beban umum dan administrasi yang meningkat 14,% menjadi Rp1,16 triliun, serta beban keuangan yang meningkat 16,2% menjadi Rp565,8 miliar.

Tulus Santoso, Direktur Keuangan Ciputra Development mengatakan, turunnya pendapatan perseroan tidak terlepas dari melemahnya kinerja penjualan properti perseroan sepanjang tahun lalu, termasuk penjualan 2015 yang baru diakui dalam buku tahun lalu.

Realisasi marketing sales emiten dengan kode saham CTRA ini tahun lalu hanya mencapai Rp7,18 triliun, turun 21,7% dari realisasi tahun 2015 yang senilai Rp9,17 triliun. Adapun nilai marketing sales 2015 merupakan rekor bagi CTRA, dengan tingkat pertumbuhan 6,35% secara tahunan, sementara realisasi marketing sales 2016 merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir sejak 2012.

“Penyebab utama penurunan pendapatan kami semata karena sales yang turun. Kontribusi dari pendapatan berulang berkisar sekitar 20%,” katanya kepada Bisnis, Kamis (30/3/2017).

Hingga akhir tahun lalu, CTRA mencatatkan persedian yang sangat tinggi, mencapai Rp7,94 triliun, meningkat 13,3% dari posisi akhir tahun 2015 sebesar Rp7 triliun. Piutang lain-lain juga meningkat 70% dari Rp449 miliar akhir 2015 menjadi Rp764 miliar akhir tahun lalu.

Perseoran mencatatkan peningkatan aset 10,7% menjadi Rp29 triliun dengan posisi kas dan setara kas Rp3,46 triliun, tumbuh 14,2% dibandingkan Rp3,03 triliun pada 2015. Selain itu, ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp14,29 triliun, tumbuh 9,5%.

Tulus mengatakan, kinerja yang tidak sesuai harapan pada tahun lalu akan turut berimbas pada pembukuan tahun ini, seiring pengakuan pendapatan penjualan tahun lalu yang sebagian baru diakui tahun ini. Perseroan memproyeksikan pendapatan hingga akhir tahun ini masih relatif sama dengan kinerja akhir tahun lalu.

Meski begitu, perseroan meyakini marketing sales tahun ini akan meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun lalu. CTRA tahun ini menargetkan marketing sales dapat mencapai Rp8,5 triliun, lebih tinggi dari realisasi tahun lalu, tetapi tidak lebih baik dibandingkan kinerja lima tahun terakhir sejak 2013. Pemulihan marketing sales tahun ini baru akan terefleksikan dalam pendapatan buku tahun depan.

Menurutnya, harapan bagi pemulihan kinerja penjualan tahun ini ditopang oleh tiga hal. Pertama, regulasi terkait KPR, seperti suku bunga, kredit inden, dan LTV sudah selesai tahun lalu dan cukup menarik. Sejumlah bank sudah menurunkan suku bunga dan menggenjot pendapatan dari KPR

Kedua, program pengampunan pajak sudah akan berakhir di kuartal pertama, menghasilkan sejumlah besar wajib pajak yang siap dengan dana segar untuk investasi. Ketiga, pemulihan harga komoditas akan kembali meningkatkan permintaan hunian di wilayah-wilayah pusat komoditas.

Menurutnya, kontribusi penjualan dari wilayah pusat komoditas seperti Sumatra dan Kalimantan hanya menyumbang 10% dari total marketing sales perseroan tahun lalu. Dengan pemulihan harga komoditas, perseroan mengestimasikan kontribusi penjualan dari penjualan komoditas akan meningkat menjadi 30% dari total marketing sales.

“Di atas kertas, tahun ini mestinya sudah akan lebih baik dari tahun lalu, cuma memang kita belum merasakan hasilnya di kuartal pertama tahun ini,” katanya.

Hingga akhir bulan ini, tuturnya, perseroan sudah membukukan marketing sales sekitar Rp1,5 triliun, atau sekitar 18% dari target marketing sales. Realisasi ini tidak banyak berubah dari tahun lalu dan masih di bawah harapan perseroan.

Di sisi lain, perseroan tetap mengantisipasi potensi peningkatan suku bunga tahun ini akibat sentimen global. Meski begitu, dirinya meyakini kalangan perbankan akan tetap lebih lunak terhadap bunga KPR mengingat tingkat NPL yang rendah di sektor ini dan tingginya minat perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor ini.

Franky Rivan, Analis Mirae Asset Securitas mengatakan, dibandingkan emiten properti lainnya, Ciputra memiliki keunggulan pada luasnya cakupan wilayah pengembangan perseroan ke luar Jawa. Menurutnya, tekanan penjualan properti lebih banyak terjadi di Jawa dibandingkan kawasan luar Jawa.

“Kami melihat penjualan properti yang turun gila-gilaan sebenarnya di Jawa, di luar Jawa masih oke. Kita masih positif memandang prospek Ciputra, apalagi dia sudah merger dengan CTRP yang posisi recurring income-nya besa. Dari segi cash flow Ciputra masih sangat bagus,” katanya, Kamis (30/3).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ciputra

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top