Harga Emas 2017 Berpeluang ke US$1.300

Emas diperkirakan memimpin peningkatan harga komoditas logam mulia seiring dengan meningkatnya permintaan sektor perhiasan.
Hafiyyan | 21 Maret 2017 19:53 WIB
Harga emas - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Emas diperkirakan memimpin peningkatan harga komoditas logam mulia seiring dengan meningkatnya permintaan sektor perhiasan. Harga batu kuning diperkirakan mencapai US$1.300 per troy ounce pada akhir 2017.

Georgette Boele, Coordinator FX & Precious Metals Strategy ABN Amro Bank, menyampaikan harga emas baru-baru ini memantul ke atas US$1.200 per troy ounce menuju area US$1.230 per troy ounce. Faktor utama yang memengaruhi dalam waktu dekat ialah sentimen dovish dari Federal Reserve.

Kendati demikian, pada kuartal II/2017 ada kemungkinan investor bersikap ragu untuk melakukan aksi beli emas dalam jumlah banyak mengingat prospek The Fed meningkatkan tarif suku bunga. Namun, selama real yield tidak meningkat terlalu tajam, harga batu kuning masih sangat tangguh.

Boele menyampaikan, harga emas terutama ditopang oleh permintaan sektor perhiasan. Sentimen ini sejalan dengan peningkatan perekonomian global, khususnya di negara-negara konsumen utama.

Permintaan China diperkirakan meningkat signifikan, sedangkan penyerapan India cenderung maju secara moderat. Pertumbuhan konsumsi yang positif juga datang dari Paman Sam.

"Kenaikan permintaan perhiasan akan melindungi risiko penurunan harga emas pada triwulan mendatang [kuartal II/2017] ," paparnya dalam riset yang dikutip Bisnis.com, Selasa (21/3/2017).

Kendati tertekan oleh sentimen hawkish The Fed, pada kuartal II/2017 harga emas masih stabil dalam rentang US$1.200-US$1.250 per troy ounce karena kenaikan permintaan perhiasan. Di sisi lain, penyerapan investor mengimbangi kenaikan pasokan.

Adapun untuk akhir 2017, real yields AS akan memuncak dan berbalik menurun. Faktor itu akan membebani dolar AS dan memberikan sentimen positif terhadap logam mulia. Oleh karena itu, harga emas bisa menguat hingga US$1.300 per troy ounce pada akhir tahun ayam api.

Menurut Boele, harga emas dapat meneruskan reli hingga level US$1.400 per troy ounce pada akhir 2018. Peningkatan harga terutama ditopang oleh kondisi permintaan yang melampaui pasokan untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.

Namun demikian, defisit pasar tidak akan bertahan lama karena pasokan scrap kemungkinan akan mengalami peningkatan seiring dengan melambungnya harga.

Dari sisi suplai, ABN Amro menyampaikan, pasokan tambang mengalami tren meningkat sejak 2008. Total suplai dari tambang baru pada 2017 diperkirakan mencapai 3.200 ton, naik tipis dari 2016.

Ada dua faktor yang memengaruhi suplai tambang emas, yakni ketersediaan bijih dan kadarnya di batuan, serta margin ongkos produksi per ons. Margin produksi diambil dari selisih harga jual emas dengan seluruh biaya penambangan.

Pada 2016, perkiraan ongkos produksi langsung berkisar US$725 per ons, sedangkan keseluruhan biaya penambangan mencapai US$1.160 per ons. Bagian terbesar biaya penambangan disokong oleh upah sekitar 50%, kemudian segi bagian dan suplai sebesar 12%, energi sekitar 10%, sarana penunjang 10%, dan kebutuhan-kebutuhan lain.

Upah lebih sering dibayar dalam mata uang lokal, sehingga jika mata uang suatu negara mengalami kenaikan terhadap dolar AS, maka biaya penambangan meningkat. Lima negara produsen utama global ialah China, Australia, Rusia, Amerika Serikat, dan Peru.

Sementara harga minyak mentah yang lebih rendah dalam paruh pertama 2017, memberikan sentimen positif karena ongkos produksi yang lebih rendah. Pada perdagangan Selasa (21/3) pukul 16:33 WIB, harga minyak WTI berada di posisi US$48,57 per barel, turun 12,32% secara year to date (ytd).

"Biaya penambangan pada tahun ini tidak terlalu berubah dari tahun sebelumnya, tetapi dapat meningkat di tahun depan. Pasalnya mata uang negara-negara produsen mengalami peningkatan, dan harga minyak memanas," papar Boele.

Bila dibandingkan dengan logam mulia lain, peningkatan harga emas pada 2017 diprediksi lebih tinggi. Harga paladium diperkirakan mencapai level US$725 per troy ounce pada akhir tahun, sementara perak menuju US$15 per troy ounce, dan platinum di posisi U$850 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas tergelincir dari level tertinggi dalam dua minggu terakhir seiring dengan sentimen hawkish dari Federal Reserve.

Pada perdagangan Selasa (22/3) pukul 16:48 WIB, harga emas gold spot menurun 2,2 poin atau 0,18% menjadi US$1.232,04 per troy ounce. Harga tergelincir dari level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Dalam waktu yang sama, indeks dolar AS merosot 0,446 poin atau 0,44% menuju 99,964.

Menururt Bryan Lum, strategist Phillip Futures di Singapura, harga emas tertekan setelah Presiden The Fed Chicago Charles Evan menyampaikan perihal kemungkinan Bank Sentral AS untuk mengerek suku bunga antara 2-4 kali pada 2017. Sementara Presiden The Fed Minneapollis Neel Kashkari mengatakan tidak akan bersikap terburu-buru dalam menaikkan Fed Fund Rate (FFR).

Sebelumnya, Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menuju 0,75%-1% pada Rabu (15/3). "Sentimen dari The Fed cenderung hawkish sehingga harga emas terkoreksi," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Dalam sepekan ini, memang cukup banyak pidato dari pejabat The Fed yang diperkirakan memberikan sinyal terhadap kebijakan FFR. Agenda yang paling ditunggu ialah pidato Gubernur The Fed Janet Yellen pada Kamis (23/3).

Tag : emas, Harga Emas Hari Ini
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top