2017, Pefindo Proyeksi Emisi Obligasi Korporasi Rp119 Triliun

PT Pemeringkat Efek Indonesia mengantongi mandat emisi surat utang korporasi sebesar Rp21,03 triliun dan memproyeksi total emisi pada tahun depan mencapai Rp119,6 triliun atau lebih tinggi dari capaian tahun ini.
Ana Noviani | 20 Desember 2016 19:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--PT Pemeringkat Efek Indonesia mengantongi mandat emisi surat utang korporasi sebesar Rp21,03 triliun dan memproyeksi total emisi pada tahun depan mencapai Rp119,6 triliun atau lebih tinggi dari capaian tahun ini.

Salyadi Saputra, Direktur Utama Pefindo, menuturkan emisi obligasi korporasi di Indonesia terus meningkat. Sepanjang Januari-November 2016, nilai emisi obligasi korporasi tercatat mencapai Rp104,18 triliun. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan capai pada 2014 sebesar Rp46,26 triliun dan Rp62,57 triliun pada 2015.

"Tahun ini penerbitan obligasi capai rekor baru. Sampai akhir tahun mungkin bisa Rp110 triliun lebih karena ada beberapa yang belum listing, tapi ada juga yang menunda listing ke bulan depan," kata Salyadi, Selasa (20/12).

Sampai dengan Desember 2016, mandat pemeringkatan obligasi Pefindo yang belum listing mencapai Rp21,3 triliun. Mandat tersebut tidak termasuk program penawaran umum berkelanjutan (PUB) dan diberikan oleh 28 perusahaan yang mayoritas berasal dari 7 perusahaan pembiayaan, 4 bank, dan 4 perusahaan properti.

Menurut Salyadi, sejumlah emiten yang menunda emisi obligasi pada akhir tahun ini khawatir terhadap ketatnya likuiditas di pasar surat utang nasional yang berisiko mengerek tingkat kupon.

"Demand agak kurang bagus, emiten diminta naikkan bunga tidak mau, jadi menunda satu bulan. Karena memang likuiditas di pasar, mudah-mudahan ini temporary dan minat investor bisa meningkat," ujarnya.

Salyadi menuturkan mandat emisi obligasi tersebut kemungkinan akan diterbitkan pada kuartal I/2017 atau paling lambat sepanjang semester I/2017.

Potensi emisi obligasi korporasi pada 2017 juga bersumber dari besarnya sejumlah obligasi yang jatuh tempo. Pefindo mengestimasi nilai obligasi jatuh tempo mencapai Rp79 triliun atau paling tinggi sejak 2009.

Untuk melunasi nilai pokok obligasi, lanjutnya, emiten cenderung menerbitkan surat utang baru untuk refinancing dibandingkan dengan menggunakan uang dari kas perseroan.

"Kalau dijumlahkan, mandat Pefindo yang belum listing dan obligasi jatuh tempo pada 2017 sudah lebih dari Rp100 triliun. Itu belum termasuk PUB dan mandat untuk emisi pada semester II/2017," papar Salyadi.

Atas dasar itu, Pefindo memperkirakan total nilai emisi obligasi korporasi pada 2017 mencapai Rp119,6 triliun. Asumsinya, pertumbuhan ekonomi membaik ke level 5%, inflasi terjaga, bunga relatif rendah, dan tingkat bunga obligasi yang meningkat.

Pefindo berharap emisi obligasi 2017 tidak akan seperti periode 2013 yang turun setelah mencatat rekor tinggi sebesar Rp68,6 triliun pada 2012 menjadi Rp57,6 triliun.

"Sekarang minat emiten untuk menerbitkan obligasi itu tinggi. Concern-nya siapa yang mau beli? Terserap atau tidak?" imbuhnya.

Salyadi berharap arus dana hasil program amnesti pajak bakal meramaikan pasar obligasi nasional yang rata-rata nilai transaksinya sebesar Rp878 miliar per hari atau hanya sekitar 10% dari nilai transaksi harian di pasar saham. Pasalnya, pasar sekunder yang kurang likuid membuat investor enggan mengoleksi obligasi korporasi.

Berdasarkan data OJK, obligasi korporasi yang outstanding-nya mencapai Rp313,53 triliun paling banyak dimiliki oleh reksa dana dengan porsi kepemilikan sebesar 21,8%, investor bank17,43%, dan dana pensiun 16,56%. Sementara itu, porsi kepemilikan asing dalam obligasi korporasi hanya 6,07%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pefindo, obligasi korporasi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top