Biayai Ekspansi 2017, Indonesia Eximbank Siapkan Obligasi Rp14 Triliun

Indonesia Eximbank akan menerbitkan obligasi Rp14 triliun pada 2017.
Anggara Pernando | 20 Desember 2016 00:57 WIB
obligasi -

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia Eximbank akan menerbitkan obligasi Rp14 triliun pada 2017. Raharjo Adisusanto, Managing Director Indonesia Eximbank (Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia) menuturkan hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk  ekspansi pembiayaan rupiah serta pelunasan obligasi  jatuh tempo.

"Penerbitan guna membayar obligasi jatuh tempo di 2017 sebesar Rp8,46 triliun sisanya untuk ekspansi pembiayaan rupiah," kata Raharjo di Jakarta pada Senin (19/12/2016).

Dia mengatakan pemenuhan pembiayaan dengan obligasi rupiah ini akan diterbitkan dalam dua seri putaran pendanaan. Pasalnya dari Rp24 triliun plafond Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III, pihaknya hanya memiliki sisa yang dapat diterbitkan sebesar Rp9 triliun. PUB III ini direncanakan dihabiskan dalam dua kali penerbitan.

Sementara itu, kata Raharjo, untuk 2016 Indonesia Eximbank menjadi institusi penerbit obligasi dan surat berharga terbesar.

Dia mengatakan tahun ini pihaknya menerbitkan surat berharga sebesar Rp16,2 triliun. Dana itu diperoleh melalui empat kali penerbitan obligasi dan dua kali medium term note.

Sementara guna pemenuhan pembiayaan dalam bentuk dolar AS, Raharjo mengatakan pada 2017 pihaknya akan menarik pinjaman sebesar US$1,3 juta. Jumlah ini digunakan untuk refinancing sebesar US1 juta dolar serta ekspansi sebesar US$300 juta.

Raharjo menyatakan sudah banyak lembaga pembiayaan yang menyatakan kesiapannya mengucurkan pinjaman kepada perusahaan. Indonesia Eximbank, kata dia, akan menarik pinjaman dari lembaga yang memberikan penawaran dengan persyaratan paling menarik. "Januari akan ditunjuk lead manager (untuk penarikan pinjaman dolar ini)."

Ngalim Sawega, Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, mengatakan pada 2017 pihaknya menargetkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 14,47%.

Target ini lebih moderat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan pembiayaan dalam 3 tahun terakhir. Dia mengatakan target konsolidasi ini mengingat sejumlah negara tujuan ekspor masih memiliki tantangan.

Dia mengatakan risiko ini meliputi masih lambatnya pemulihan ekonomi di AS dan China, ketidak pastian setelah keluarnya Inggris dari zone Euro  (Brexit), serta pelemahan semua sektor di Jepang.

“Perindustrian masih menjadi prioritas utama portofolio pembiayaan Indonesia Eximbank, dengan porsi 46%, diikuti oleh pertanian dan sarana pertanian (12%), serta pertambangan (10%),” kata Ngalim.

Penyertaan modal negara

Raharjo mengatakan pihaknya mengharapkan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp3,2 triliun di 2017 dapat memperluas jangkauan kinerja perusahaan.

Raharjo mengatakan dari jumlah PMN itu, sebesar Rp2,2 triliun akan digunakan untuk perluasan pasar ekspor melalui National Interest Account (NIA). Dengan dukungan ini perusahaan dapat membiayai proyek-proyek startegis namun kurang menarik secara komersial.

Sedangkan Rp1 triliun sisanya, kata Raharjo, dipergunakan untuk memperkuat modal perusahaan guna menjaga kualitas rating. Dengan rating yang baik, bunga yang harus dibayar oleh Indonesia Eximbank relatif lebih murah.

"Karena kami sumber pendanaannya salah satunya dari capital market. Untuk itu sangat penting untuk memperkuat rating," kata Raharjo.

Tag : Obligasi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top