RI Non Aktif Sementara Dari OPEC, Akses Pasar Minyak Diyakini Masih Mudah

Keputusan Indonesia untuk menonaktifkan diri sementara dari organisasi negara pengekspor minyak (the organization of petroleum exporter countries/OPEC) tak mempengaruhi harga beli minyak impor, karena masih terdapat pemasok lain yang memungkinkan untuk menyuplai minyak mentah
Duwi Setiya Ariyanti | 02 Desember 2016 10:20 WIB
Ilustrasi. - .huskyenergy.com

Bisnis.com, JAKARTA- Keputusan Indonesia untuk menonaktifkan diri sementara dari organisasi negara pengekspor minyak (the organization of petroleum exporter countries/OPEC) tak mempengaruhi harga beli minyak impor, karena masih terdapat pemasok lain yang memungkinkan untuk menyuplai minyak mentah.

Seperti diketahui, tujuan pemerintah kembali masuk OPEC pada 2015 dikarenakan ingin mendapat akses lebih mudah terkait kerja sama proyek migas dan mendapat akses harga minyak yang lebih murah. Sementara, dengan keputusan Indonesia menonaktifkan diri sementara tak akan berpengaruh terhadap harga beli minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Adapun, Indonesia menyatakan nonaktif dalam OPEC karena pemerintah diminta mengurangi produksi minyak sebesar 37.000 barel per hari (bph) karena sidang menetapkan pemangkasan produksi secara total yakni 1,2 juta bph.

Di sisi lain, sebenarnya kemampuan produksi nasional pun tak mengalami pertumbuhan. Sesuai target 2016, produksi siap jual atau lifting nasional 820.000 bph dan turun 5.000 bph pada target 2017 yakni menjadi 815.000 bph.

President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel S Purba mengatakan selama ini pembelian minyak yang menggunakan akses langsung yakni pembelian dua kargo per bulan minyak mentah dalam kontrak jangka panjang dengan Saudi Aramco. Adapun, harga yang digunakan merupakan harga resmi internasional dari Pemerintah Saudi.

"Harga pembelian minyak mentahnya adalah harga resmi internasional yang dikeluarkan oleh Pemerintah Saudi," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (2/12/2016).

Vice President Crude and Commercial ISC Pertamina Hasto Wibowo mengatakan selama ini perseroan mendapat pasokan minyak mentah dari berbagai sumber baik melalui national oil company (NOC) maupun perusahaan dagang (trading company) tanpa memedulikan apakah memiliki posisi di OPEC.

Selama pemasoknya menawarkan harga kompetitif, dengan pasokan yang terjamin dan memenuhi ketentuan lelang tentunya bisa memasok minyak mentah ke Indonesia. Dengan demikian, keputusan Indonesia tak berdampak terhadap harga minyak mentah yang dibeli dari pemasok bila merujuk pada keinginan mendapat harga murah dari anggota OPEC.

Sebagai gambaran, katanya, impor minyak mentah sebesar di kisaran 11 juta hingga 12 juta barel per bulan. Adapun, pasokan diperoleh dari beberapa negara seperti Arab, Nigeria, Sonangol, Libya dan Aljazair.

"Concern kami, availability, reliability supply dan commercial competitive. Keluar atau tidak sesungguhnya tidak terkait sama naik turunnya harga," katanya. 

Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan pemangkasan produksi akan berdampak cukup signifikan bagi industri migas dan juga ketahanan energi nasional. Indonesia membutuhkan produksi untuk mengurangi impor. Dengan demikian, bila produksi dikurangi, impor berpotensi naik.

Saat ini, Indonesia mengimpor sekitar 50% atau sekitar 430.000 bph kebutuhan minyak mentah untuk pengolahan di kilang nasional.

"Saat ini Indonesia justru memerlukan peningkatan produksi minyak mentah untuk mengurangi impor sehingga berapapun peningkatan yang berhasil dilakukan akan sangat berarti" tutur Dwi.

Untuk produksi minyak mentah Pertamina di Tanah Air, hingga September 2016 rata-ratanya mencapai 223.000 bph atau naik 12% dari periode yang sama tahun lalu. Pembelian dari KKKS naik menjadi sekitar 12.000 bph dari tahun lalu hanya sekitar 4.000 bph.

Sebagai National Oil Company Indonesia, Pertamina juga melakukan ekspansi bisnis hulu ke luar negeri. Sampai dengan September 2016 lalu, produksi minyak (net to share) Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi mencapai 86.000 bph, sedangkan gasnya mencapai 207 MMscfd sehingga produksi migas PIEP sampai dengan sembilan bulan pertama 2016 mencapai 122.000 barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd).

"Sampai dengan akhir tahun ini Pertamina menargetkan lifting minyak mentah dari hasil produksi PIEP (net to share) tidak kurang dari 13,63 juta barel," katanya.

Tag : minyak
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top