Fundamental Membaik, Harga CPO Berpeluang Menguat Sampai Akhir 2016

Harga minyak kelapa sawit atau CPO diprediksi melanjutkan tren penguatan sampai akhir tahun ini seiring dengan membaiknya faktor fundamental. Harga komoditas ini bahkan berpeluang menyentuh posisi 3.000 ringgit per ton.
Hafiyyan | 02 November 2016 19:49 WIB
Buah sawit - Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak kelapa sawit atau CPO diprediksi melanjutkan tren penguatan sampai akhir tahun ini seiring dengan membaiknya faktor fundamental. Harga komoditas ini bahkan berpeluang menyentuh posisi 3.000 ringgit per ton.

Pada penutupan perdagangan bursa Malaysia Selasa (1/11/2016), harga CPO untuk kontrak teraktif Januari 2017 naik 26 poin atau 0,95% menuju 2.758 ringgit (US$658,47) per ton. Ini menunjukkan harga sudah meningkat 7,95% sepanjang tahun berjalan.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, menyampaikan harga CPO cenderung masih kuat karena positifnya fundamental. Pada September, rerata harga bahkan mencapai 2.862 ringgit per ton.

Dalam sembilan bulan pertama 2016, rerata harga CPO berada di 2.556 ringgit per ton, naik dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 2.150,5 ringgit per ton. Koreksi yang terjadi dalam waktu dekat akibat penurunan ekspor masih terbilang wajar, karena masih di atas level 2.700 ringgit per ton.

Dalam sepekan harga CPO diprediksi bergulir dalam rentang 2.600—2.900 ringgit per ton. Jika berhasil rebound dari 2.700 ringgit dan bertahan di atas 2.800, maka level 3.000 jelas terbuka untuk bisa terkejar pada tahun ini.

“[Harga] masih akan naik, rekomendasi tetap beli. Faktor utamanya fundamental CPO masih positif. Produksi turun akibat El Nino, sedangkan permintaan global seperti masih bagus,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (2/11/2016).

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB), stok CPO dalam negeri pada September sebesar 1,55 juta ton merupakan level terendah sejak Januari 2011. Dalam sembilan bulan pertama 2016, rerata stok menurun ke 1,82 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sejumlah 2,15 juta ton.

Ada dua kebijakan di dalam negeri yang menguatkan sentimen CPO dari Malaysia. Pertama, pelaksanaan program B10, yakni menggunakan campuran 10% metal esther sawit dengan Solar untuk sarana transportasi.

Kedua, menyediakan insentif sebesar 100 juta ringgit dalam kegiatan penanaman kembali tanaman kelapa sawit. Kebijakan ini bertujuan mengurangi produksi dan membantu menurunkan persediaan CPO.

Malaysia dan Indonesia juga berkolaborasi dalam pembentukan Dewan Negara Produsen Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC). Lembaga ini bermaksud memperkuat industri sekaligus menstabilkan harga CPO.

Dari Negeri Garuda, pengenaan pajak ekspor turut menjadi sentimen positif terhadap harga. Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi produk CPO periode Oktober 2016 sebesar US$781,49 per ton. Harga ini berada di atas ambang batas pengenaan bea keluar (BK) di level US$750, sehingga terkena pajak US$3 per ton.

Dalam waktu dekat, harga juga akan terdorong sentimen lobi PM Datuk Seri Najib Tun Razak kepada PM China Li Keqiang untuk meningkatkan ekspor. Negeri Panda merupakan importir terbesar CPO dari Malaysia, tetapi jatuh ke urutan ketiga setelah India dan Eropa.

Ditengarai adanya persepsi negatif terhadap kandung nutrisi CPO menjadi penyebab utama anjloknya impor China lebih dari 50% selama paruh pertama 2016. “China menjadi salah satu faktor penting bagi CPO, ini [lobi Malaysia] jadi sentimen positif,” ujar Wahyu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, harga cpo

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top