Libur Lebaran, Harga Minyak Bisa Melonjak Ke US$50 Per Barel

Harga minyak diprediksi bisa kembali menyentuh US$50 pada pekan depan. Pasalnya, masa-masa liburan hari raya Idulfitri membuat menurunnya spekulan serta penurunan produksi shale oil Amerika Serikat.
Surya Rianto | 02 Juli 2016 14:18 WIB
Ilustrasi - jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga minyak diprediksi bisa kembali menyentuh US$50 pada pekan depan. Pasalnya, masa-masa liburan hari raya Idulfitri membuat menurunnya spekulan serta penurunan produksi shale oil Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, harga minyak west texas intermediate (WTI) 1,37% menjadi US$48,99 per barel, sedangkan harga minyak Brent susut 1,84% menjadi US$49,68 per barel.

Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka, mengatakan meskipun kelebihan pasokan masih menjadi tekanan untuk harga minyak, tetapi dalam jangka dekat penurunan tingkat spekulan selama libur lebaran nanti bisa menjadi momentum penguatan.

"Secara teknikal, harga minyak kemungkinan bisa bergerak hingga ke batas atas US$49 sampai US$50,"  ujarnya kepada Bisnis pada Sabtu (2/7).

Adapun, harga minyak juga mendapatkan dukungan dari tren penurunan produksi shale oil Amerika Serikat (AS).

Menurut data Energy Information Administration (EIA), sampai akhir bulan lalu, produksi shale  oil AS telah susut sebesar 1,29% menjadi 8,62 juta barel per hari dibandingkan dengan periode sama pada bulan sebelumnya. Secara year to date (ytd), produksi shale oil AS sudah susut sebesar 6,72%.

Namun, beban tekanan memang masih datang dari tingkat pasokan minyak di Negeri Paman Sam yang belum mampu susut dari level tertinggi sepanjang masanya.

Sampai pekan yang berakhir pada (24/6), pasokan minyak AS mencatatkan penurunan tipis sebesar 1,58% menjadi 526,27 juta barel dibandingkan dengan periode sama pada bulan sebelumnya. Secara ytd, pasokan minyak AS masih naik sebesar 8,03%.

Tag : komoditas
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top