Turunnya Produksi RI dan Malaysia Angkat Harga CPO

Penurunan produksi kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia membuat harga CPO melambung. Namun, nilai jual berpotensi terkoreksi di kuartal IV/2016.
Hafiyyan | 17 Mei 2016 19:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Penurunan produksi kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia membuat harga CPO melambung. Namun, nilai jual berpotensi terkoreksi di kuartal IV/2016.

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia Selasa (11/5) harga CPO untuk kontrak Juli 2016 naik 8 poin atau 0,31% ke level 2.620 ringgit (US$651) per ton. Artinya, sepanjang tahun berjalan harga sudah meningkat sebanyak 4,17%.

Dalam helatan Palm Oil Seminar 2016 di Turki, Selasa (17/5/2016), James Fry, Chairman of Commodities Consultancy LMC International, menyampaikan penanaman kelapa sawit Malaysia terganggung oleh El Nino sehingga terus menurun. Penurunan tingkat produksi pun terus bertumbuh, seperti 2,7% di Januari, 7% Februari, 18,4% Maret, dan 23,2% pada April.

Cuaca kering juga melanda wilayah Indonesia sebagai produsen CPO terbesar, sehingga pasokan makin terpangkas. Berbanding terbalik, tingkat konsumsi justru bertumbuh karena Negeri Garuda sedang memacu konsumsi biodiesel, yakni naik 2 juta ton pada 2016 dibandingkan 2015.

Penurunan produksi Indonesia dan Malaysia membuat harga CPO berada dalam sentimen positif. "Namun, naiknya stok di kuartal IV/2016 membuat harga anjlok ke posisi 2.200-2.300 ringgit Malaysia," papar Fry dalam presentasinya, Selasa (17/5/2016).

JP Morgan dalam risetnya menyampaikan harga CPO bakal terus meningkat dan mencapai puncak di level 2.900-3.000 ringgit Malaysia per ton dalam 1-2 kuartal ke depan. Secara keseluruhan, rerata harga pada 2016 ialah 2.500 ringgit Malaysia atau US$600 per ton.

Ada tiga faktor utama yang membuat harga berlanjut mencapai level tertinggi dalam 2 tahun terakhir pada kuartal II atau III 2016. Pertama, berkurangnya pasokan akibat cuaca kering yang dipicu El Nino membuat permintaan ekspor dipercepat pada Maret.

Kedua, pasokan kedelai yang cukup di pasar, sehingga sentimen harganya tidak mengganggu laju nilai jual CPO. Terakhir, ketiga, dukungan program biodiesel di Indonesia dapat memacu konsumsi domestik hingga dua kali lipat, yakni sekitar 2-2,5 juta kilo liter.

Tag : harga komoditas, harga cpo
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top