Ditopang Sentimen Positif, Harga CPO ke Level 2.800

Harga minyak kelapa sawit (CPO) berpotensi menuju level 2.800 ringgit Malaysia per ton seiring dengan berkurangnya produksi Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia dan bertumbuhnya permintaan dari sejumlah negara.
Hafiyyan | 17 Mei 2016 21:35 WIB
Buah kelapa sawit - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak kelapa sawit (CPO) berpotensi menuju level 2.800 ringgit Malaysia per ton seiring dengan berkurangnya produksi Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia dan bertumbuhnya permintaan dari sejumlah negara.

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia Selasa (11/5) harga CPO untuk kontrak Juli 2016 naik 8 poin atau 0,31% ke level 2.620 ringgit (US$651) per ton. Artinya, sepanjang tahun berjalan harga sudah meningkat sebanyak 4,17%.

Thomas Mielke, Executive Director Oil World, dalam presentasinya menyampaikan, harga minyak nabati global sudah mengalami tren menghijau dalam enam bulan terakhir. Pada April 2016, harga CPO Indonesia berhasil naik US$400 per ton dari level terendah pada Agustus 2015.

Saat itu, harga CPO berada di kisaran US$735 per ton dan menjadi level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Kenaikan minyak sawit juga diiringi pertumbuhan harga minyak kedelai di Argentina.

Oil World memprediksi total produksi minyak nabati pada musim Oktober 2015 - September 2016 sebesar 206 juta ton, naik dari periode 2014-2015 sejumlah 204,9 juta ton. Dari sisi konsumsi, penyerapan naik menuju 208,4 juta ton dibandingkan periode sebelumnya sebanyak 203,1 juta ton.

Permintaan yang bertumbuh 5,3 juta ton di periode 2015-2016 membuat situasi defisit pasar global sebesar 2,4 juta ton, dari surplus di musim sebelumnya sejumlah 1,6 juta ton. Perkiraan konsumsi minyak nabati Indonesia bertumbuh 1,2 juta ton, India 1,3 juta ton, China 0,4 juta ton, negara Asia lainnya 0,8 juta ton, dan Amerika Serikat 1,1 juta ton.

"Pemicu utama pemulihan konsumsi ialah tingginya konsumsi biodiesel di Indonesia," papar Thomas dalam laporannya, Senin (16/5/2016). Presentasi Thomas merupakan bagian dari acara Palm Oil Seminar (POS) 2016 di Turki pada 16-17 Mei 2016.

Produksi CPO musim 2015-2016 tumbuh menjadi 60,6 juta ton dibandingkan dengan periode sebelumnya 59,9 juta ton. Adapun produksi global pada 2015 sebesar 62,47 juta ton.

Meskipun demikian, produksi CPO Indonesia tahun ini berkurang menuju ke 32,7 juta ton, dibandingkan dengan 2015 sebesar 33,4 juta ton. Malaysia sebagai produsen kedua terbesar di dunia pun turut memangkas otput menjadi 18,9 juta ton dari tahun sebelumnya sejumlah 20 juta ton.

Thomas berpendapat apresiasi harga minyak kelapa sawit bakal berlanjut mencapai level 2.800 ringgit Malaysia bahkan lebih. Tiga faktor utama yang memengaruhinya ialah volume produksi dan stok bulan depan, aktivitas pembelian dari negara konsumen utama, serta pembangunan program biodiesel.

Di sisi lain, meningkatnya harga minyak mentah setelah anjlok ke level terendah dalam 12 tahun terakhir pada Januari turut mengangkat harga komoditas seperti CPO.

Tag : cpo
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top