Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Komoditas Lemah, Adaro (ADRO) Bidik Produksi Batu Bara Stagnan

Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. membidik produksi tambang batu bara cenderung stagnan pada tahun ini termasuk menurunkan alokasi belanja modal lantaran harga komoditas yang masih lemah.

Bisnis.com, JAKARTA--Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. membidik produksi tambang batu bara cenderung stagnan pada tahun ini termasuk menurunkan alokasi belanja modal lantaran harga komoditas yang masih lemah.

Direktur Utama Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan kinerja operasional tetap berjalan baik di tengah-tengah tantangan yang dihadapi di pasar batu bara dan ketidakpastian ekonomi dunia.

"Kami yakin bahwa penurunan saat ini merupakan bagian dari siklus dan fundamental batu bara tetap kokoh," katanya dalam siaran pers, Senin (14/3/2016).

Pada tahun ini, emiten berkode saham ADRO tersebut membidik produksi batu bara mencapai 52 juta - 54 juta ton, hanya naik 1%-4% dari realisasi produksi tahun lalu 51,46 juta ton.

Begitu pula dengan belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun ini yang dipangkas hingga 23% menjadi US$75 juta-US$100 juta dari realisasi tahun lalu US$98 juta. Padahal, tahun lalu perseroan menganggarkan belanja modal US$75 juta-US$125 juta.

Boy Thohir yang tercatat sebagai orang terkaya ke-42 di Indonesia versi majalah Forbes, dengan nilai kekayaan US$650 juta tersebut, memaparkan penurunan kinerja pada tahun lalu terjadi lantaran kelebihan pasokan yang terus menekan industri batu bara.

Penurunan pertumbuhan permintaan di China juga menambah tekanan terhadap harga komoditas tambang batu bara. Sehingga, harga jual rerata batu bara ADRO turun 14% year-on-year yang ditambah melorotnya volume penjualan 7% menjadi 53,11 juta ton.

Sepanjang tahun lalu, pendapatan yang dikantongi Adaro Energy amblas 19,2% menjadi US$2,68 miliar setara dengan Rp37,21 triliun (kurs Rp13.888 per dolar AS) dari tahun sebelumnya US$3,32 miliar. Pendapatan ADRO lebih rendah 3,1% dari proyeksi konsensus US$2,77 miliar.

Laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk juga terkoreksi 14,3% menjadi US$152,44 juta setara dengan Rp2,11 triliun dari sebelumnya US$177,89 juta. Laba bersih tersebut jauh di bawah estimasi konsensus 23,33% sebesar US$198,83 juta.

Manajemen Adaro menurunkan biaya kas batu bara, tidak termasuk royalti, sebesar 16% menjadi US$27,98 per ton terutama akibat koreksi nisbah kupas serta biaya bahan bakar yang lebih rendah dari anggaran, dan di bawah target yang telah ditetapkan pada kisaran US$31-US$33 per ton.

EBITDA operasional ADRO, tidak termasuk komponen akuntansi non operasi, turun 18% menjadi US$730 juta. Adaro mengklaim berhasil mencapai panduan EBITDA operasional yang ditetapkan pada kisaran US$500 juta hingga US$800 juta.

Garibaldi menambahkan, penurunan pada laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk terjadi karena pelemahan harga jual rerata dan beban penurunan nilai non kas. Saldo kas per akhir tahun lalu sebesar US$702 juta dan fasilitas pinjaman bank dengan komitmen penuh sebesar US$60 juta yang belum ditarik.

Adaro menurunkan posisi utang bersih 25% menjadi US%865 juta, sehingga rasio utang terhadap EBITDA operasional 12 bulan terakhir mencapai 1,18 kali dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas mencapai 0,26 kali. Tahun lalu, realisasi belanja modal turun 41% menjadi US$98 juta dari target yang dianggarkan US$75 juta-US$125 juta.

Analis PT J.P. Morgan Securities Indonesia Lydia J. Toisuta mengatakan produksi batu bara ADRO lebih rendah dari ekspektasi. Bahkan, produksi dan volume penjualan tersebut mencapai level terendah dalam tiga tahun secara kuartalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Sukirno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper