Pasokan Global Mulai Susut, Penguatan Harga Minyak Masih Tetap Rentan

Harga minyak dinilai berpotensi untuk rebound lebih jauh lagi setelah pasokan minyak global pada Januari menyusut 12 juta barel. Namun, harga minyak masih rentan kembali tertekan oleh intensitas produksi dan pasokan Amerika Serikat yang masih berada di level tinggi.
Surya Rianto | 02 Maret 2016 08:18 WIB
Blok migas - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dinilai berpotensi untuk rebound lebih jauh lagi setelah pasokan minyak global pada Januari menyusut 12 juta barel. Namun, harga minyak masih rentan kembali tertekan oleh intensitas produksi dan pasokan Amerika Serikat yang masih berada di level tinggi.

Aspect Energy Ltd., memaparkan dalam risetnya kalau mungkin saja harga minyak mulai akan mengakhiri tren harga rendah setelah anjlok sekitar 68% sejak pertengahan 2014 sampai saat ini.

Indikator yang menyebutkan harga minyak segera masuk ke tren pemulihan setelah data menunjukkan pasokan minyak global sudah menyusut 12 juta barel pada Januari kemarin.

Amrita Sen, analis Aspect Energy, mengatakan perlambatan pertumbuhan pasokan itu bisa menjadi indikator kuat kalau harga minyak siap memasuki gerbang awal pemulihan. Pasar pun mungkin sedikit lengah atau kurang merespon perlambatan pertumbuhan pasokan karena pasar minyak memulai tahun ini dengan rekor pasokan tertinggi.

"Pasar sedikit melewatkan kalau sisi pasokan minyak mulai merespons," ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Rabu (2/3).

Sen menjelaskan nilai penyusutan 12 juta barel pada Januari memang mustahil membuat oversupply  pasar minyak berakhir, tetapi jika penyusutan dengan nilai yang sama terus terjadi dalam enam sampai tujuh bulan mungkin akan mulai terasa dampaknya.

"Mungkin, pasar akan berkomentar bahwa rebound harga minyak benar-benar terjadi," jelasnya.

Bila melihat dari pergerakan harga minyak terutama West Texas  Intermediiate (WTI) memang mulai menunjukkan penguatan sejak awal Februari.

Sejak anjlok ke level US$26,21 per barel pada (11/2), harga minyak WTI terus menanjak sebesar 30,94% hingga perdagangan hari ini pada pukul 07:57 WIB berada di level US$34,32 per barel.

Akan tetapi, produksi dan pasokan minyak Amerika Serikat (AS) juga harus terus diperhatikan karena perkembangan aktivitas minyak AS itu adalah salah satu dalang anjloknya harga minyak.

Meskipun, produksi shale oil AS mulai menunjukkan tren penurunan sejak mencatatkan level tertinggi sepanjang masa pada 15 Januari 2016, tetapi dari sisi pasokan terus meningkat ke level tertinggi sepanjang masa.

Menurut data Energy Information Administration (EIA), produksi shale oil AS sampai pekan yang berkahir pada 19 Februari telah menyusut 1,44% menjadi 9,1 juta barel per hari dibandingkan dengan pada periode tertinggi 15 Januari 2016 sebesar 9,23 juta barel per hari.

Namun, dari posisi pasokan justru tetap terus mencatatkan kenaikan ke level tertinggi sepanjang masa. Sejak awal tahun sampai pekan yang berakhir pada 19 Februari 2016, pasokan minyak AS terus meningkat sebesar 5,24% menjadi 507,6 juta barel.

Dengan tren penurunan pasokan global, mungkin harga minyak berpotensi kembali ke kisaran US$40 per barel dalam jangka dekat. Namun, bila melihat historis aktivitas para pengebor minyak di AS kembali agresif  ketika harga minyak berada di kisaran US$40 sampai US$50, maka harga minyak masih rentan jatuh kembali sampai permintaan kembali bergairah atau ekonomi China mulai pulih kembali.

Sumber : bloomberg

Tag : Harga Minyak, komoditas
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top