Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA INCO: Produksi Cetak Rekor, Laba Vale Ambrol Rp1,67 Triliun

Meski produksi emiten pertambangan berkapitalisasi pasar Rp14,8 triliun, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, laba bersih perseroan justru ambrol hingga Rp1,67 triliun pada 2015.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 26 Februari 2016  |  22:35 WIB
KINERJA INCO: Produksi Cetak Rekor, Laba Vale Ambrol Rp1,67 Triliun
Aktifitas penambangan nikel milik PT Vale Indonesia, Tbk terlihat di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. - JIBI/Paulus Tandi Bone
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Meski produksi emiten pertambangan berkapitalisasi pasar Rp14,8 triliun, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, laba bersih perseroan justru ambrol hingga Rp1,67 triliun pada 2015.

Direktur Utama Vale Indonesia Nicholas D. Kanter mengatakan pada tahun lalu laba bersih INCO ambrol 70,6% menjadi US$50,5 juta setara dengan Rp696,71 miliar (kurs Rp13.796 per dolar AS), dari tahun sebelumnya US$172,27 juta.

Menurutnya, penurunan laba terjadi lantaran koreksi pendapatan akibat koreksi harga jual nikel sepanjang tahun lalu. Namun, volume produksi tahunan mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar 81.177 metrik ton.

"Kami bangga dan bersyukur dengan prestasi ini. Ini buah dari kerja keras dan tekad seluruh karyawan perseroan," katanya dalam siaran pers, Jumat (26/2/2016).

Pada saat yang sama, lanjutnya, perseroan juga senantiasa terus meningkatkan efisiensi biaya dan produksi karena INCO tetap berhati-hati dengan pergerakan harga nikel pada 2016.

Dia menjelaskan, produksi nikel dalam matte INCO pada kuartal IV/2015 adalah sekitar 8% lebih tinggi dibandingkan volume produksi pada kuartal IV/2014. Ini adalah produksi kuartalan tertinggi dalam sejarah INCO.

Kendati saat menjelang akhir tahun ketinggian permukaan air pembangkit listrik tenaga air (PLTA) perseroan turun mendekati batas minimum, yang berdampak pada pasokan listrik, dia mengaku setelah menimbang dengan hati-hati dan menyeluruh, manajemen perseroan memutuskan untuk mengaktifkan generator termal untuk memasok tambahan daya ke tungku listrik karena operasi masih menghasilkan margin kas positif.

Sementara itu pada awal 2016, ketinggian permukaan air PLTA mulai naik karena curah hujan yang lebih tinggi. Ini mendorong perseroan untuk menghentikan operasi generator termalnya sejak pertengahan Januari 2016. 
 
Volume penjualan pada 2015 meningkat sebesar 4% dari tahun sebelumnya dan 12% lebih tinggi dari kuartal IV tahun sebelumnya. Namun dengan turunnya harga jual rata-rata 2015 sebesar 27% dibandingkan 2014 karena harga nikel yang lebih rendah, maka pendapatan 2015 juga turun 24% untuk tahun ini. 
 
Biaya pokok pendapatan Perseroan turun sebesar 8% pada 2015 dibandingkan tahun 2014. Penyebab utama penurunan biaya ini adalah turunnya biaya bahan bakar dan karyawan serta perbaikan monitoring pengeluaran diskresi.

Beban usaha, biaya keuangan dan beban lainnya pada 2015 juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 20%, 21% dan 35% dibandingkan 2014. Ini semua mencerminkan perbaikan disiplin biaya dan produktivitas operasi PT Vale yang berkelanjutan dan menggarisbawahi keberhasilan strategi pengurangan biaya Perseroan. 

Konsumsi diesel pada 2015 meningkat sebesar 37% dari tahun senelumnya. Hal ini karena adanya keputusan untuk mengaktifkan generator termal demi mengimbangi produksi listrik yang lebih rendah dari PLTA perseroan sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Konsumsi diesel meningkat sebesar 79% pada kuartal IV/2015 dibandingkan sebelumnya. Namun, konsumsi dan harga minyak bakar bersulfur tinggi (high sulphur fuel oil/HSFO) menurun pada kuartal yang sama dibandingkan dengan kuratal sebelumnya, yang membantu mengimbangi kenaikan biaya pemakaian diesel.

Menurutnya, konsumsi HSFO pada 2015 meningkat sebesar 5% dari 2014, yang mana konsisten dengan peningkatan produksi. Namun, biaya pemakaian HSFO yang dikeluarkan pada 2015 lebih rendah dari 2014 karena harga HSFO menurun secara signifikan. 
 
"Laba untuk tahun 2015 dan 2014 adalah masingmasing sebesar US$50,5 juta dan US$172,3 juta," katanya.  
 
Kas dan setara kas perseroan pada 31 Desember 2015 dan 2014 masingmasing sebesar US$194,8 juta dan US$302,3 juta. Aset lancar perseroan pada 31 Desember 2015 juga termasuk investasi jangka pendek dalam bentuk deposito berjangka sebesar US$90,1 juta. Manajemen INCO mengklaim telah, dan akan terus, berhatihati dalam mengontrol pengeluaran untuk menjaga ketersediaan kas. 
 
Selama periode 2015, perseroan mengeluarkan sekitar US$106,4 juta belanja modal. Pengeluaran ini sejalan dengan guidance belanja modal sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. 
 
"Pada 2016 Vale Indonesia berencana untuk memproduksi sekitar 80.000 ton nikel dalam matte. Secara bersamaan, Vale akan tetap fokus pada perbaikan biaya untuk mempertahankan keunggulan biaya perseroan tanpa mengkompromikan nilai utama perseroan," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tambang kinerja emiten vale indonesia tbk
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top