Transformasi Adaro Energy (ADRO): Kala Batu Bara Tak Lagi Jadi Tumpuan

PT Adaro Energy Tbk. sebagai salah satu produsen batu bara di Indonesia harus memutar strategi dengan tak lagi bertumpu pada bahan bakar fosil tersebut.
Sukirno | 10 Februari 2016 22:55 WIB
Kapal tongkang membawa hasil tambang. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Harga batu bara acuan (HBA) per Januari 2016 mencapai US$53,2 per ton, anjlok 16,67% year-on-year, dan menjadi posisi paling rendah sejak 2009. PT Adaro Energy Tbk. sebagai salah satu produsen batu bara di Indonesia harus memutar strategi dengan tak lagi bertumpu pada bahan bakar fosil tersebut.

Memang, masa keemasan batu bara mencapai puncaknya pada periode 2010-2012, di mana posisi harga salah satu komoditas energi itu mencapai kisaran US$100. Untuk harga tertinggi batu bara Newcastle Intercontinental Exchange (ICE) mencapai US$139 pada 2011.

Head of Corporate Communication Division PT Adaro Energy Tbk. Febriati Nadira menuturkan pada tahun ini, emiten berkode saham ADRO tersebut menargetkan produksi batu bara sebanyak 52 juta ton hingga 54 juta ton. Target tersebut stagnan dari proyeksi tahun lalu, yang telah direvisi dari 54 juta ton hingga 56 juta ton.

"Pertambangan batu bara di Adaro terkena tekanan akibat pelemahan harga komoditas. Tapi kami masih optimistis target EBITDA bisa dicapai karena strategi di sektor batu bara, jasa pertambangan dan logistik serta ketenaga listrikan," ungkapnya kepada Bisnis belum lama ini.

Manajemen membidik target EBITDA 2015 sebesar US$550 juta hingga US$800 juta. Saldo kas perseroan pada periode kuartal III/2015 mencapai US$785 juta.

Kondisi terus melahnya harga komoditas, sambungnya, dinilai tidak mudah bagi emiten pertambangan. Manajemen ADRO mengklaim harus mengandalkan keunggulan, termasuk efisiensi dan memperkuat bisnis logistik.

Belanja modal (capital expenditure/Capex) yang dianggarkan manajemen Adaro mencapai US$75 juta hingga US$100 juta pada tahun ini. Capex saat ini tercatat lebih sedikit ketimbang tahun lalu yang mencapai US$75 juta hingga US$125 juta.

Saat berkunjung ke kantor redaksi Harian Bisnis Indonesia baru-baru ini, Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir atau yang akrab disapa Boy Thohir, mengatakan perseroan bakal segera bertransformasi.

Dia mengaku pesimistis industri batu bara akan sulit mengulang era keemasan saat super cycle pada periode 2010-2012 dulu. “Itu semua sudah berakhir bagi saya, tetapi kalau nanti ternyata bisa terulang kembali berarti itu bonus untuk kami.”

Perseroan melihat ada potensi bisnis yang lebih besar ketimbang bertahan di industri tambang batu bara. Menurutnya, bakal ada super sycle lainnya di Indonesia, yakni megaproyek pembangunan pembangkit listrik sebesar 35.000 megawatt.

"Itu adalah proyek besar yang mungkin hanya hadir 100 tahun sekali,” katanya bersemangat.

Melorotnya sektor tambang batu bara, membuat manajemen Adaro mulai melirik sektor lain yang lebih memiliki prospek demi bertahan tatkala masih suramnya harga komoditas.

Salah satu motor pertumbuhan perusahaan adalah jasa pertambangan dan logistik yang terus melakukan peningkatan usaha dalam kuartal III/2015. Walaupun saat ini jasa pertambangan dan logistik masih sebagian besar mendukung usaha Adaro, dalam jangka panjang, divisi usaha ini memiliki prospek yang menjanjikan.

Usaha logistik akan berperan penting mendukung program ekspansi ketenagalistrikan 35.000 MW dan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih lanjut.

Sebagai tahap awal pengembangan bisnis logistik, pada 11 September 2015, Adaro menandatangani perjanjian kerjasama strategis dengan PT Pertamina (Persero) untuk pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan optimisasi infrastruktur bahan bakar Adaro. Kerjasama strategis antara Adaro dengan Pertamina ini sejalan dengan inisiatif untuk meningkatkan ketahanan energi nasional.

Kerjasama di bidang infrastruktur, transportasi dan pemenuhan kebutuhan BBM (Biosolar) akan berlangsung selama 7 tahun, terhitung sejak 1 November 2015 hingga 1 Oktober 2022.

Kesepakatan kerjasama meliputi dua hal, pertama kerjasama Fuel Supply Agreement (FSA), yaitu kerjasama pemenuhan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) Biosolar untuk kegiatan  Adaro Energy dan afiliasinya. Volume jual beli BBM sesuai yang disepakati adalah sekitar 400.000 - 550.000 KL/tahun.

Kedua, kerjasama Fuel Facilities Agreement (FFA), yaitu kerjasama sewa dan pemanfaatan Terminal BBM milik IBT di Mekar Putih, Pulau Laut, Kota Baru, Kalimantan Selatan, yang terdiri dari empat storage tanks dengan kapasitas total sebesar 70.000 KL/tahun dan dan dua jetty dengan kapasitas 1,4 juta KL/ tahun.

Analis Indonesia Materials & Minning PT J.P. Morgan Securities Indonesia Lydia J. Toisuta, mengatakan produksi pertambangan batu bara Adaro pada kuartal IV/2015 terkoreksi 19% y-o-y dan turun 17% dari kuartal sebelumnya.

Dia menilai, produksi dan volume penjualan batu bara Adaro jatuh ke level terendah dalam 3 tahunan setiap bulan masing-masing 11,6 juta ton dan 11,9 juta ton pada kuartal IV/2015.

"Kami percaya bahwa permintaan yang lemah karena musim dingin yang lebih hangat, tercermin dalam harga Newcastle, merupakan alasan bagi penurunan harga jual. Harga Newcastle rerata turun 10% dari kuartal sebelumnya," katanya dalam riset terbaru.

Dia menambahkan, jasa pertambangan menunjukkan penurunan terbesar terutama pada pengupasan atau overburden yang terkoreksi 29% y-o-y. Rasio pengupasan Adaro bahkan rerata turun 13%.

Sementara itu, laba bersih Adaro pada kuartal IV/2015 diperkirakan masih tertekan oleh depresiasi nilai tukar rupiah. Dia memerkirakan, laba Adaro terkoreksi 38% dari kuartal sebelumnya menjadi US$37 juta.

"Namun, kami mungkin akan melihat Adaro berubah menjadi rugi pada kuartal IV/2015," tuturnya.

Kabar gembira datang dari sektir kelistrikan. Proses pembukaan lahan yang sempat tertunda mulai menggunakan Undang-Undang Tanah yang baru dirilis pada 15 Agustus lalu dan telah rampung dieksekusi oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Manajemen Adaro diproyeksi akan menyelesaikan pekerjaan pembebasan lahan sebelum Juni tahun ini. Hal itu dilakukan setelah ada kepastian dari pemerintah daerah yang telah mengeluarkan izin lahan pembangunan pembangkit listrik.

Secara terpisah, analis PT Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan, menuturkan laba bersih Adaro Energy pada kuartal III/2015 lebih tinggi 97%-195% dari proyeksi Mansek dan konsensus. Sepanjang 9 bulan pada 2015, laba bersih Adaro mencapai US$181 juta, turun 18% y-o-y.

"Kami meningkatkan proyeksi laba bersih Adaro periode 2015-2017 sekitar 6%-10% setelah memasukkan rendahnya biaya bunga dengan tetap menjaga tingkat pajak dari 45%," tuturnya dalam riset baru-baru ini.

Pihaknya juga memangkas biaya dana Adaro yang diperkirakan mencapai 2%-4%, berdasarkan rasio pengupasan tanah yang lebih rendah dan terus melorotnya biaya bahan bakar. Mansek mempertahankan level netral untuk ADRO dengan target harga kurang dari Rp700 per lembar saham.

Tag : batu bara, adaro
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top