IHSG Pekan Depan: Sektor Konstruksi Bakal Moncer

Setelah Indeks harga saham gabungan (IHSG) menjadikan bursa dengan kinerja terbaik di dunia dalam pekan perdana tahun ini, diperkirakan sektor konstruksi bakal moncer dan memimpin pergerakan pasar modal.nn
Sukirno | 10 Januari 2016 19:43 WIB
Karyawan mamantau pergerakan harga saham melalui smartphone di Kantor Bursa Efek Indonesia Perwakilan Bandung, Jawa Barat, belum lama ini. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Setelah Indeks harga saham gabungan (IHSG) menjadikan bursa dengan kinerja terbaik di dunia dalam pekan perdana tahun ini, diperkirakan sektor konstruksi bakal moncer dan memimpin pergerakan pasar modal.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo memerkirakan selama sepekan ini, IHSG bakal bergerak pada level support 4.500 dan 4.550. Kemudian, level resistance jangka menengah berada pada kisaran 4.650 dan 4.625.

Pergerakan IHSG sepekan diproyeksi bakal digerakkan oleh saham-saham sektor konstruksi. Pergerakan saham sektor ini diperkirakan bakal memimpin rally saham-saham turunan dari konstruksi.

"Saham yang akan menjadi pilihan misalnya sektor konstruksi karena memang pemilik asingnya masih sedikit. Lalu saham-saham emiten turunannya," ungkapnya saat dihubungi Bisnis.com, Minggu (10/1/2015).

Saham-saham turunan dari sektor konstruksi, katanya, seperti properti, precast, alat berat, dan infrastuktur tol. Sedangkan, saham sektor semen diproyeksi masih tertekan akibat kepemilikan asing masih cukup tinggi.

Pada saat bersamaan, saham sektor perbankan juga diproyeksi bakal kembali moncer, lantaran sentimen akan adanya penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Pergerakan saham perbankan telah terjadi sejak pekan lalu seiring dengan wacana penurunan BI Rate.

Dia menjelaskan, pada pekan ini, IHSG diperkirakan masih akan tertekan oleh kondisi global. Meski Indeks Dow Jones akhir pekan lalu ditutup di atas level support, IHSG diproyeksi masih 'galau' dan ragu untuk menghilangkan tekanan pasar global.

Tidak hanya itu, pergerakan bursa saham dan ekonomi China juga perlu diperhatikan. Namun demikian, tekanan dari Negeri Tirai Bambu itu bukanlah secara fundamental, sehingga diperkirakan hanya bersifat sementara.

Sentimen paling kuat secara fundamental adalah terus merosotnya harga minyak mentah dunia hingga US$33/barel, diperkirakan akan menekan harga komoditas lainnya.

Akan tetapi, penurunan harga minyak dunia diharapkan dapat kembali membuat harga bahan bakar minyak (BBM) dikoreksi. Jika harga BBM kembali turun, konsumsi masyarakat bakal kembali meningkat dan inflasi lebih terjaga.

"Sekarang suku bunga kita terlalu jauh dengan inflasi. Tapi kita juga menunggu BI Rate akan turun sampai di level berapa," paparnya.

Dia menambahkan, antisipasi BI Rate diperkirakan akan berdampak terhadap nilai tukar rupiah. Kurs rupiah diproyeksi dalam sepekan berada pada level Rp13.900/US$-Rp14.100/US$.

Sepanjang pekan ini, kurs rupiah diperkirakan akan flat. Tetapi, bila tekanan dari bursa global berakhir, tentu saja rupiah akan kembali menguat.

Tag : IHSG, Indeks BEI
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top