PREDIKSI NILAI TUKAR 2016: Rupiah Tertekan pada Awal Tahun

Nilai tukar rupiah diprediksi tertekan pada awal tahun ini seiring dengan indeks dolar AS yang kembali memasuki tren penguatan. Tekanan untuk nilai tukar rupiah dan mata uang emerging market lainnya juga datang dari perkembangan ekonomi China.
Surya Rianto | 02 Januari 2016 14:10 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diprediksi tertekan pada awal tahun ini seiring dengan indeks dolar AS yang kembali memasuki tren penguatan. Tekanan untuk nilai tukar rupiah dan mata uang emerging market lainnya juga datang dari perkembangan ekonomi China.

Pada penutupan perdagang-an Kamis (31/12/2015), nilai tukar rupiah melemah 0,31% menjadi Rp13.830 per dolar AS dengan kurs tengah Bank Indonesia (BI) Rp13.795.

Di sisi lain, indeks dolar AS terus mencatatkan penguatan sejak 25 Desember 2015. indeks mata uang Amerika Serikat (AS) itu sudah menguat 0,8%. Terakhir, pada akhir tahun lalu, indeks dolar AS ditutup menguat 0,37% menjadi 98,63.

Managing Director Project Asia Research & Consulting Pte. Attila Vadja mengatakan mata uang emerging market, termasuk rupiah diperkirakan masih akan tekanan pada tahun ini.

Perlambatan ekonomi China yang masih berpotensi berlanjut, kekhawatiran kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bertahap pada tahun ini, dan kejatuhan lanjutan harga komo-ditas tetap menjadi sentimen utama yang menekan mata uang emerging market.

“Meskipun begitu, investor tampaknya tidak akan memper-lakukan semua mata uang emer-ging market dengan sikap yang sama,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Jumat (1/1/2016).

Adapun, analis PT Esandar Artha Berjangka Tony Mariano menjelaskan khusus untuk rupiah, tekanan dari tren penguatan dolar AS sejak akhir tahun lalu berpeluang berlanjut untuk jangka pendek.

Kekhawatiran kenaikan suku bunga bertahap The Fed yang telah mendorong indeks dolar AS terus menguat. “Lalu, penguatan indeks dolar AS juga menjadi sentimen negatif untuk harga komoditas. Pelemahan harga komoditas pun berarti tekanan tambahan juga untuk rupiah,” ujarnya kepada Bisnis.com.

PELUANG POSITIF

Secara umum, nilai tukar rupiah masih punya potensi bergerak positif sepanjang tahun ini. Hal itu diperkirakan setelah sepanjang tahun lalu kinerja mata uang garuda itu bergerak underperform sekali.

Sepanjang tahun lalu, nilai tukar rupiah telah melemah sebesar 11,22%, sedangkan sepanjang kuartal IV/2015 nilai tukar rupiah mencatatkan pergerakan yang positif dibandingkan dengan kuartal lainnya pada tahun lalu setelah menguat sebesar 5,9% dari posisi Rp14.653 per dolar AS menjadi Rp13.788 per dolar AS.

Analis valuta asing Commonwealth Bank of Australia Andy Ji mengatakan nilai tukar rupiah sudah berkinerja cukup buruk sepanjang tahun lalu. Mungkin, bisa ada beberapa potensi penguatan ke arah yang lebih positif pada tahun ini.

“Walaupun, rencana kenaikan suku bunga bertahap The Fed masih menjadi risiko utama rupiah dan mata uang emerging market lainnya pada tahun ini,” ujarnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nilai tukar rupiah

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (1/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top