DOLAR MENGUAT: Harga Komoditas Pertanian Berpeluang Anjlok

Para produsen dari Amerika Serikat harus menyesuaikan harga yang saat ini lebih mahal karena posisi dolar AS masih tinggi, sedangkan produsen lain mata uangnya terdepresiasi.nn
Surya Rianto | 24 September 2015 16:05 WIB
Petani di Vietnam tengah melakukan panen Jagung. - Bisnis.com/Hendri T. Asworo

Bisnis.com, CHICAGO – Harga komoditas pertanian sektor biji-bijian yang diperdagangkan di Chicago Board of Trade berpotensi terus terkoreksi.

Para produsen dari Amerika Serikat harus menyesuaikan harga yang saat ini lebih mahal karena posisi dolar AS masih tinggi, sedangkan produsen lain mata uangnya terdepresiasi.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (24/9/2015) sampai pukul 15:23 WIB, harga jagung di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,26% menjadi US$3,82 per bushel. Lalu, harga gandum turun 0,3% menjadi US$5,06 per bushel, sedangkan harga kedelai naik 0,14% menjadi US$8,65 per bushel.

Pedro Dejneka, managing partner AGR di Brasil, mengatakan pasokan komoditas sektor biji-bijian seperti gandum, jagung, dan kedelai saat ini tengah menumpuk dan permintaan juga kurang begitu baik.

Dengan begitu, jagung, gandum, dan kedelai dari Amerika Serikat (AS) tampaknya kurang diminati karena harganya yang lebih mahal.

Kalau AS ingin meningkatkan permintaan ekspornya, maka harga jagungnya harus jatuh lebih rendah lagi. Mungkin di level US$3,5,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg.

Sumber : bloomberg

Tag : komoditas
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top