Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS) Raih Laba US$43,4 Juta

PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) melaporkan pendapatan sebesar US$135,3 juta, laba kotor sebesar US$43,4 juta, dan EBITDA sebesar US$53,6 juta.
Bambang Supriyanto | 02 April 2015 10:45 WIB
Ilustrasi - Jibi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) melaporkan pendapatan sebesar US$135,3 juta, laba kotor sebesar US$43,4 juta, dan EBITDA sebesar US$53,6 juta.

Selain itu, Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih) sebesar US$20,1 juta untuk laporan keuangan audited yang berakhir pada 31 Desember 2014.

Rico Rustombi, Presiden Direktur MBSS menyampaikan bahwa penurunan harga komoditas batu bara yang menyentuh kisaran di bawah US$70 per metrik ton pada akhir  2014 memberikan tekanan harga pada jasa logistik pendukung industri batu bara.

"Pada 2014, sekitar 30% kontrak MBSS jatuh tempo dimana MBSS harus mengambil langkah strategis untuk mempertahankan pangsa pasar dan kliennya dengan memberikan win-win solution lewat cara menurunkan tarif pengangkutan, dengan kompensasi volume yang lebih tinggi atau jangka waktu kontrak yang lebih panjang," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4).

Dia menjelaskan penurunan tarif pengangkutan tersebut menekan marjin keuntungan Perseroan. Pada 2014 laba kotor Perseroan turun dari US$60,7 juta menjadi US$43,5 juta atau penurunan gross margin dari 40,2% menjadi 32,1%.

Melalui langkah tersebut, MBSS berhasil memperpanjang 40% dari kontrak yang jatuh tempo pada 2014.

Adapun  kontrak yang tidak diperpanjang sebanyak 25% berhasil dikonversi menjadi kontrak baru dan 14% sisanya dialokasikan untuk melayani pasar spot.

Rico menambahkan bahwa kemampuan MBSS untuk memberikan tarif yang kompetitif tidak lepas dari salah satu competitive advantage yang dimilikinya, yakni struktur biaya.

“Kesuksesan MBSS melakukan refinancing atas beberapa fasilitas kredit jangka panjang di tahun 2013 berhasil menurunkan suku bunga efektif rata-rata Perseroan dari 5,8% pada 2013 menjadi 5,4% pada 2014, yang diterjemahkan menjadi penurunan beban bunga dari US$6,2 juta di tahun 2013 menjadi US$4,9 juta di tahun 2014," ujar Rico.

Pada 2014 Perseroan mengangkut 52,6 juta ton batu bara, terdiri dari 31,1 juta ton untuk segmen barging dan 21,5 juta ton untuk segmen floating crane. Volume untuk segmen barging mengalami penurunan sebesar 24% secara year-on-year (y.o.y). Untuk segmen floating crane volume naik sebesar 3%.

Penurunan volume barging di tahun 2014 didorong oleh lebih banyaknya pengangkutan batu bara jarak jauh (antar pulau) dibanding jarak dekat (transshipment) sehubungan peningkatan kebutuhan domestik batu bara dan industri semen.

Rico menjelaskan bahwa jarak pengangkutan yang lebih jauh berakibat pada penurunan perputaran armada. 

Hal itu mengakibatkan total volume yang diangkut menjadi lebih kecil dalam periode yang sama dibandingkan pengangkutan jarak pendek, yakni dari loading port menuju anchorage point tempat kegiatan pindah muat (transshipment) untuk tujuan pasar ekspor dilakukan.

Ika Bethari, Direktur Keuangan dan Perencanaan MBSS juga menyampaikan beberapa faktor yang menyebabkan penurunan laba bersih perseroan pada 2014.

Disamping tekanan harga, meningkatnya jumlah docking armada Perseroan sesuai persyaratan kelas, serta kurang maksimalnya perputaran armada perseroan untuk pengangkutan jarak jauh karena faktor cuaca buruk, khususnya di triwulan ketiga dan keempat 2014 yang memaksa armada Perseroan untuk berlindung/sheltering guna menjaga keselamatan pelayaran.

Selain itu, penyelesaian Kewajiban Penundaan Utang (PKPU) sebesar US$3,2 juta kepada PT Great Dyke juta juga turut menekan laba bersih Perseroan.

“Apabila dinormalisasi dengan mengeluarkan komponen PKPU, laba bersih Perseroan akan berada di angka US$23,3 juta”, ujar Ika.

Ika lebih lanjut menjelaskan bahwa klaim PKPU adalah kejadian yang sifatnya one-off dikarenakan struktur kontrak yang dibuat dan ditandatangani oleh Manajemen lama Perseroan tersebut adalah satu-satunya kontrak dimana MBSS bukan merupakan pihak yang secara langsung berhubungan dengan counter party.

“Manajemen MBSS memiliki keyakinan bahwa kejadian ini tidak akan terulang di masa depan, mengingat tidak ada kontrak lain dengan struktur yang serupa”, jelas Ika.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top