Data Manufaktur China Melambat, Harga Logam Industri Terancam

Harga komoditas logam industri berpotensi melemah seiring data manufaktur China yang melambat. Pasar pun semakin cemas permintaan komoditas sektor itu akan terus menyusut pada tahun ini.
Surya Rianto | 02 Februari 2015 11:25 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas logam industri berpotensi melemah seiring data manufaktur China yang melambat. Pasar pun semakin cemas permintaan komoditas sektor itu akan terus menyusut pada tahun ini.

Lian Zheng, Analis Xinhu Futures Co. mengatakan perekonomian China pada kuartal I/2015 mungkin lebih lambat dari apa yang diprediksi sebelumnya.

“Ekonomi China lemah, berarti tanda kisah suram untuk harga komoditas logam industri,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Senin (2/2/2015).

Data manufaktur China masih bertengger di bawah 50 yaitu 49,8 pada Januari 2015. Padahal pada Desember 2014 angkanya mencapai 50,1 sehingga diproyeksikan pada bulan lalu bisa mencapai 50,2.

Namun, harga tembaga diperkirakan tidak terpengaruh data manufaktur China itu, harga komoditas itu diproyeksikan tetap dalam tren penguatan. Pasalnya, setelah memasuki harga terendah pada pekan lalu, kemungkinan besar permintaan meningkat.

Zhang Yu, analis Yongan Futures Co., mengatakan pasar tembaga berpotensi bergerak stabil pada bulan ini.

“Harga yang rendah berpotensi tingkatkan permintaan, apalagi isu pada pekan lalu yang menyebutkan China ingin meningkatkan cadangan tembaganya,” ujarnya.

Pada perdagangan sampai pukul 11:00 WIB, harga tembaga berjangka di New York Commodity Exchange (COMEX) naik 0,42% menjadi US$2,5 per pon, sedangkan nikel pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,9% menjadi US$15.035 per metrik ton.

Sumber : bloomberg

Tag : komoditas
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top