Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berkah & Petaka Rendahnya Harga Minyak

Harga minyak yang masih bertahan di level terendah sampai saat ini telah membuat beberapa negara produsen kewalahan.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 30 Januari 2015  |  20:44 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak yang masih bertahan di level terendah sampai saat ini telah membuat beberapa negara produsen kewalahan.

Namun, bagi konsumen momentum ini seperti berkah di tengah perlambatan ekonomi global.

Arab Saudi, produsen minyak terbesar harus melihat kenyataan produk domestik bruto (PDB) pada 2014 menjadi defisit.

Menurut perkiraan delapan ekonom PDB Arab Saudi akan defisit 4,7% dan menjadi defisit yang pertama kalinya sejak 2009. Padahal pada 2013, PDB Arab Saudi mengalami surplus hingga 8,7%.

Sementara itu, Namibia memilih menunda eksplorasi minyak dan gas lebih jauh karena harga minyak yang sedang rendah.

Immanuel Mulunga, Komisaris Perusahaan Minyak Milik Negara Namibia, mengatakan kemungkinan eksplorasi hanya dilakukan di tiga tempat dan tidak dilakukan dalam waktu dekat.

“Kami sudah memiliki tiga tempat pengeboran yang sudah positif untuk melakukan aktivitas pada tahun depan. Tapi, kami bergerak hati-hati saat ini karena harga minyak masih rendah,” ujarnya seperti dilansir Bloomberg pada Jumat (30/1).

Sebelumnya, pada awal tahun lalu, Namibia  merencanakan mengeksplorasi lima sampai enam tempat. Tapi, rencana itu diajukan ketika harga minyak dunia masih di atas US$100.

Dia  mengatakan kondisi harga minyak pada awal tahun ini memang masih terlalu dini untuk pemerintah mengubah rencana. Tapi, bila harga belum bangkit hingga akhir tahun maka akan muncul kekhawatiran yang baru.

“Kami sangat berharap harga minyak bisa kembali bergerak ke atas agar rencana kami bisa berjalan sesuai rencana,” tuturnya.

Pada perdagangan sampai pukul 16:47 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,65% menjadi US$44,82 per barel, sedangkan harga minyak Brent naik 0,33% menjadi US$49,29 per barel.

Michael McCharty, analis CMC Markets, mengatakan harga minyak belum kembali ke tren penguatan karena masih ada beberapa kelompok yang menginginkan harga minyak lebih rendah lagi.

“Harga minyak gagal beristirahat sejenak dari kejatuhannya yang beruntun setelah pasokan minyak Amerika Serikat (AS) kembali naik. Tapi, tampaknya harga minyak masih berpotensi bergerak naik dalam jangka  pendek,” ujarnya.

Kondisi harga minyak rendah itu memang menjadi berkah bagi negara importir seperti Jepang.

Negeri Para Samurai itu berhasil mencukur defisit anggaran pada tahun lalu menjadi sebesar 6,8% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 9%.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global harga minyak mentah

Sumber : bloomberg

Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top