Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Porsi Kepemilikan CT di Garuda Melonjak

Porsi kepemilikan PT Trans Airways, lini usaha CT Corp yang dimiliki oleh pengusaha Chairul Tanjung, pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. melonjak dari 16% menjadi 28,14%.
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 21 April 2014  |  08:18 WIB
  Logo Garuda Indonesia.  -
Logo Garuda Indonesia. -

Bisnis.com, JAKARTA—Porsi kepemilikan PT Trans Airways, lini usaha CT Corp yang dimiliki oleh pengusaha Chairul Tanjung, pada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. melonjak dari 16% menjadi 28,14%.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan per 16 April 2014, Trans Airways memiliki 6,37 miliar saham Garuda (28,14%), naik dari sebelumnya 3,62 miliar (16%). Hal itu berarti jumlah saham Garuda (GIAA) yang dimiliki oleh Trans Airways bertambah sebanyak 2,75 miliar atau tepatnya 2.748.138.012.  Angka tersebut jauh di atas hak Trans Airways atas saham baru yang diterbitkan oleh Garuda lewat mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Seperti diketahui, Garuda melakukan penerbitan saham baru (rights issue) sebanyak 3,23 miliar atau tepatnya 3.227.930.633 saham. Setiap pemegang saham, berhak atas saham baru tersebut berdasarkan porsi kepemilikan per 4 April 2014. Berarti pemerintah, sebagai peme gang 69,14% saham Garuda, memiliki hak atas 2,23 miliar saham baru atau tepatnya 2.231.669.111 saham.

Adapun, berdasarkan data KSEI, kepemilikan Trans Airways di Garuda per 4 April 2014 adalah sebanyak 16%. Itu berarti perusahaan milik Chairul Tanjung ini berhak atas 516,47 juta saham baru atau tepatnya 516.468.901 saham.

Dengan penambahan kepemilikan sebanyak 2.748.138.012 saham, itu berarti Trans Airways menyerap 2.231.669.111 saham di luar haknya, atau sama persis dengan jumlah saham baru yang menjadi hak pemerintah.

Sebagai informasi, pemerintah tidak mengeksekusi haknya da lam rights issue Garu da. Untuk itu, Kementerian BUMN menunjuk PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai placement agent. Para placement agent sempat melakukan road show ke Singapura dan Hong Kong untuk menawarkan saham pemerintah itu kepada para investor.

Bahkan beberapa waktu lalu, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano H. Herman mengaku respons para investor di sana cukup positif terhadap saham baru Garuda.
Namun, saat dihubungi tadi malam, Marciano menolak untuk menyebutkan siapa investor yang menyerap saham baru Garuda tersebut. Dia juga mengelak menjawab saat ditanyakan apakah kemiripan jumlah saham hingga digit terakhir tambahan saham Trans Airways pada Garuda dengan jumlah saham yang menjadi hak pemerintah menunjukkan Trans Airways sebagai penyerap seluruh saham itu. “Itu kan data KSEI. Saya tidak bisa bilang ke siapa [saham pemerintah dijual]. Itu rahasia,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (20/4).

Direktur Utama Bahana Securities Andi Sidharta juga menolak berkomentar. “Sesuai dengan kesepakatan kami, mohon hubungi Mansek [Mandiri Sekuritas] sebagai koordinator,” ujarnya.

Namun, hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abiprayadi Riyanto tidak merespons pesan yang dikirimkan. Dihubungi terpisah, Komisaris CT Corp Ishadi SK juga menolak berkomentar. “Saya belum bisa comment. Itu di luar kewenangan saya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi VI DPR Airlangga Hartarto menilai rights issue Garuda memang dirancang untuk membuat CT Corp dapat meningkatkan kepemilikan di maskapai penerbangan itu. “Ini sudah diatur. Danareksa dan Bahana [placement agent] kan tidak pernah menjelaskan siapa pembeli siaganya. Harusnya kan underwriter. Jadi sebenarnya ada hal yang disembunyikan. Kalau bagi saya sih ini akal-akalan,” ujarnya saat dihubungi tadi malam.

Dia juga meragukan minat investor asing terhadap saham Garuda, mengingat kinerja Garuda yang tidak terlalu menjanjikan. “Dapat dipastikan tidak ada appetite [minat] investor asing. Ngapain repot-repot road show ke Hong Kong dan Singapura kalau akhirnya yang beli CT Corp. Berarti kan ada yang disembunyikan,” katanya.

Edwin Sebayang, analis MNC Securities, menilai penambahan kepemilikan Trans Airways di Garuda tidak akan berdampak banyak untuk emiten dengan kode saham GIAA itu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garuda indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia edisi Senin (21/4/2014)

Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top