EMITEN BISNIS 27: Pertumbuhan Melambat, Simak Ulasannya

Kendati seluruh emiten yang sahamnya masuk dalam indeks Bisnis 27 membukukan keuntungan pada tahun lalu, mayoritas atau 21 dari 27 emiten tersebut mencetak pertumbuhan laba bersih yang melambat dibandingkan dengan yang dihasilkan pada 2012.
Yeni H. Simanjuntak | 02 April 2014 07:46 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati seluruh emiten yang sahamnya masuk dalam indeks Bisnis 27 membukukan keuntungan pada tahun lalu, mayoritas atau 21 dari 27 emiten tersebut mencetak pertumbuhan laba bersih yang melambat dibandingkan dengan yang dihasilkan pada 2012.

Rata-rata pertumbuhan laba bersih 27 emiten tersebut bahkan turun 1,58%, setelah pada tahun sebelumnya mencetak rata-rata pertumbuhan 11,26%.

Namun, hanya 12 emiten yang membukukan penurunan laba bersih, atau tidak sampai setengah dari 27 emiten tersebut dan tidak ada yang mengalami kerugian.

Total keuntungan yang dicetak oleh 27 emiten tersebut mencapai Rp155,03 triliun. Keuntungan terbesar dibukukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yakni Rp21,34 triliun, disusul PT Astra International Tbk. yang me ngantongi Rp19,42 triliun.

Adapun, pendapatan 27 emiten itu rata-rata tumbuh 11,51% pada tahun lalu, hanya turun tipis dibandingkan dengan 15,95% pada 2012.

Namun, depresiasi nilai tukar rupiah pada tahun lalu membuat sebagian besar emiten mengalami pembengkakan rugi selisih kurs, sehingga kenaikan pendapatan tidak mampu mendongkrak pertumbuhan laba bersih.

Masalah rugi selisih kurs yang harus ditanggung emiten sudah diperkirakan para analis, terutama untuk emiten yang memiliki beban utang valuta asing (valas) dan masih bergantung pada bahan baku impor.

Laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang turun 23% menjadi Rp2,5 triliun pada tahun lalu dibandingkan dengan Rp3,26 triliun pada 2012 juga tidak mengejutkan Herman Koeswanto, analis PT Mandiri Sekuritas.

“Kinerja INDF sesuai dengan ekspektasi. Seperti yang kami perkirakan, itu [penurunan laba bersih] disebabkan oleh rugi selisih kurs yang mencapai Rp1,7 triliun,” tulisnya dalam riset yang dirilis pekan lalu.

Analis Panin Sekuritas Fajar Indra, dalam risetnya akhir pekan lalu, juga menyebutkan rugi selisih kurs menjadi salah satu faktor penurunan laba bersih PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA).

Kemarin, indeks Bisnis27 yang berisi 27 saham emiten tersebut ditutup naik 3,19% ke level 420,38. Adapun, IHSG ditutup naik 2,22% ke level 4.873,93.

Sepanjang tahun, indeks Bisnis27 mengantongi kenaikan 16,19% (year-to-date), di atas kenaikan IHSG yang hanya 14,03%. Kendati hanya berisi 27 saham, kapitalisasi pasarnya mencapai Rp2.413,15 triliun atau 55,02% dari total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rp4.385,92 triliun yang berisi sekitar 490 saham.

Sumber : Bisnis Indonesia (2/4/2014)

Tag : bei, pasar modal, Indeks BISNIS 27
Editor : Nurbaiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top