Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CIMB PRINCIPAL siap rilis reksa dana saham baru

JAKARTA-PT CIMB Principal Asset Management berencana menerbitkan produk reksa dana saham terbaru berbasis pendorong ekonomi domestik yakni, Indo Domestic Equity Fund pada kuartal I/2013.
- Bisnis.com 31 Januari 2013  |  18:20 WIB

JAKARTA-PT CIMB Principal Asset Management berencana menerbitkan produk reksa dana saham terbaru berbasis pendorong ekonomi domestik yakni, Indo Domestic Equity Fund pada kuartal I/2013.

 
Direktur CIMB Principal Gunanta Afrima mengatakan produk reksa dana saham baru tersebut akan berisi emiten-emiten yang menjadi pendorong utama ekonomi domestik, tanpa terkait dengan perdagangan internasional.
 
"Produk baru kami intinya pada tematik driver utama ekonomi domestik, tidak investasi pada satu sektor saja. Cakupan konstituennya 80% lebih dari indeks," ujarnya, Kamis(31/1/2013).
 
Rencananya, perseroan akan meluncurkan produk tersebut pada kuartal pertama tahun ini, tepatnya sekitar Februari dan Maret 2013. Dia menargetkan bisa meraih dana kelolaan Rp100 miliar dari peluncuran produk baru tersebut
 
"Hasil riset perseroan memperkirakan pada Februari-Maret IHSG akan terkoreksi, semoga ini menjadi momentum yang tepat bagi peluncuran produk kami," akunya.
 
Beberapa saham yang akan menjadi aset dasar reksa dana Indo Domestik ialah emiten sektor infrastruktur, barang konsumsi, dan konstruksi yang menjadi pendorong utama ekonomi domestik. Namun dia tidak berniat mengoleksi saham emiten pertambangan karena kinerjanya tengah menurun drastis.
 
Director Chief Investment Officer CIMB Principal Fajar R. Hidajat memperkirakan reksa dana saham terbaru itu bisa mengantongi return pada kisaran 10%-15% atau sejalan dengan prediksi pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sampai akhir 2013.
 
 
Selain reksa dana berbasis saham, perseroan juga berencana meluncurkan reksa dana pendapatan tetap pada pertengahan tahun ini. Namun, CIMB Principal belum menentukan jenis instrumen antara konvensional atau syariah.
 
"Kami akan melihat kondisi pasarnya dahulu, bagaimana demand-nya nanti, masih akan melalui pembahasan," tambah Gunanta.(faa)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Fahmi Achmad

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top