Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMBAL HASIL OBLIGASI: Melonjak, Bila Ditopang Kebijakan Kontroversial

JAKARTA--Imbal hasil obligasi jangka panjang berpotensi meningkat hingga 100 basispoin jika pemerintah menerapkan kebijakan pemicu lonjakan inflasi, seperti menaikkan harga bahan bakar minyak. Direktur Riset dan Edukasi Bond Research Institute (BondRI)
- Bisnis.com 22 Januari 2013  |  23:34 WIB

JAKARTA--Imbal hasil obligasi jangka panjang berpotensi meningkat hingga 100 basispoin jika pemerintah menerapkan kebijakan pemicu lonjakan inflasi, seperti menaikkan harga bahan bakar minyak.

 
Direktur Riset dan Edukasi Bond Research Institute (BondRI) Adi Vithara mengatakan pemerintah ditengarai menerapkan sejumlah kebijakan kontroversial  yakni menaikkan harga tarif dasar listrik (TDL), upah minimum regional (UMR), dan menaikkan harga BBM.

 
Ketiga kebijakan itu, terutama kenaikan harga BBM, lanjutnya, berpotensi mempengaruhi laju inflasi secara signifikan, tidak hanya secara langsung tetapi juga melalui persepsi inflasi atau expected inflation. Laju inflasi pada akhirnya akan mempengaruhi suku bunga acuan (BI Rate)yang bisa turut naik.

 
“Berdasarkan data historis terbukti kebijakan itu [penaikan harga BBM] berdampak signifikan pada inflasi dan suku bunga, Yield obligasi bisa meningkat 1%,” ujarnya kepada bisnis, Selasa(22/1/2013).

 
Peningkatan yield tersebut, katanya, bergantung pada masa jatuh tempo atau maturity-nya. Pada umumnya, sensitifitas fluktuasi yield akibat kebijakan yang konsisten cenderung berdampak pada obligasi bertenor panjang.

 
“Kenaikan yield lebih cenderung untuk yang tenor panjang, kalau tenor pendek mungkin akan secara bertahap naiknya. Obligasi jangka panjang lebih sensitif, karena ketika ada sesuatu yang sifatnya signifikan investor cenderung ambil posisi jangka pendek,” jelasnya.

 
Kendati demikian, tingkat imbal hasil obligasi domestik akan tetap konsisten pada level rendah jika pemerintah belum berani menerapkan kebijakan tidak populis seperti menaikkan harga BBM.

 
“Kalau tidak ada kebijakan ekstrim, kondisi ekonomi tak jauh berbeda dengan sebelumnya, suku bunga tetap imbal hasil juga tetap pada level rendah. Kondisi ekonomi Indonesia sedang baik jadi persepsi pasar terhadap risiko cukup rendah,” ungkapnya.

Terkait fluktuasi pasar utang akibat depresiasi rupiah, dia menilai pemerintah harus mendorong lebih banyak investor domestik untuk berinvestasi sehingga depresiasi rupiah tidak lagi bisa menyebabkan gejolak di pasar utang.

 
“Sekarang ini keyakinan pasar domestik masih rendah, terlihat dari ketika ada outflow dari investor asing maka yang di domestik ikut menarik dana juga. kalau domestik sudah banyak maka akan lebih percaya diri dan bisa mengembangkan pasar uang domestik,” tuturnya. (if)
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top