Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham TOWR Crossing Rp3,28 Triliun, IBST Disuspen

JAKARTA: Saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk dengan kode TOWR telah ditransaksikan senilai Rp3,28 triliun dengan cara crossing tutup sendiri di pasar negosiasi pada Senin (10/9). 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 September 2012  |  22:33 WIB

JAKARTA: Saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk dengan kode TOWR telah ditransaksikan senilai Rp3,28 triliun dengan cara crossing tutup sendiri di pasar negosiasi pada Senin (10/9). 

Saham tersebut dibeli melalui broker PT Credit Suisse Securities Indonesia dengan jumlah 164,62 juta unit di harga Rp20.000 per unit saham. Harga transaksi itu masih lebih rendah atau terdiskon 12,28% dari harga penutupan TOWR yang berada di level Rp22.800. 

Managing Research PT Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, menduga pembelian saham dalam jumlah besar itu dilakukan oleh investor asing mengingat sebagian besar nasabah Credit Suisse adalah investor asing. 

Dia menilai aksi beli yang dilakukan tersebut dilakukan untuk mencari untung dari peningkatan harga sahamnya dalam jangka panjang. "Transaksi dilakukan di harga Rp 20.000 per lembar saham dimana harga tersebut adalah area konsolidasi antara over bought (jenuh beli) dan oversold (jenuh jual)," jelas Reza, Senin (10/9). 

Namun menurut Kepala Riset Henan Putihrai Felix Sindhunata, transaksi crossing yang dilakukan pada pasar negosiasi biasanya tidak berhubungan dengan ketertarikan investor terhadap outlook saham. 

Umumnya, transaksi jumlah besar yang biasa disebut sebagai block sale itu dilakukan atas inisiatif perseroan sebagai langkah private placement.

"Private placement biasanya merupakan bagian dari strategi perseroan untuk memperoleh dana segar atau mengurangi beban utang. Peruntukannya terntu harus dilihat dari keperluan perseroan tersebut," kata Felix.  

Sarana Menara, dalam laporan keuangan kuartal I/2012 tercatat memiliki debt to equity (DER) yang tinggi, yaitu sebesar 4,4x. 

Sementara pada semester I/2012, total liabilitas perseroan tercatat Rp 8,39 triliun sedangkan ekuitas hanya tercatat Rp 1,65 triliun, sehingga rasio liabilitas terhadap ekuitas mencapai 5,08x atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar 4,64x

Adapun pendapatan perseroan naik 32,52% menjadi Rp1,02 triliun pada Juni 2012 dari periode yang sama 2011 Rp772,27 miliar. Namun, laba bersih perseroan anjlok 49,88% menjadi Rp128,84 miliar dari sebelumnya Rp257,09 miliar.

"Jika melihat porsi utang yang besar, sangat mungkin transaksi crossing digunakan untuk meringankan beban utangnya," lanjut Felix. 

Pada pertengahan tahun, menurut catatan Bisnis, Sarana Menara pernah mengemukakan keinginan untuk menerbitkan saham baru Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (non HMETD) dengan porsi 10% dan nilai Rp 1,5 triliun.

Di sisi lain, saham-saham emiten menara telekomunikasi menurut dia sebetulnya masih memiliki outlook yang bagus karena berkembang seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri telekomunikasi dan data. 

"Dari sisi operator mereka sudah tidak ingin mengelola menara karena biaya operasionalnya lebih mahal dibanding dengan sharing menara bersama operator lain. Seingga perusahaan menara bisa sangat menguntungkan," lanjutnya. 

Di sektor yang sama, saham PT Inti Bangun Sejahtera Tbk disuspen menyusul lonjakan harga yang mencurigakan sejak listing pada Jumat (31/8) lalu.

Berdasarkan pengumuman yang dirilis Senin (10/9) oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), saham IBST mengalami peningkatan signifikan yaitu sebesar Rp2.900 atau 193,33% pada Jumat (7/9) lalu menjadi Rp4.400.

"Penghentian sementara perdagangan saham IBST ini dilakukan di pasar reguler dan pasar tunai dengan tujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar mempertimbangkan secara matang dalam keputusan investasinya pada saham IBST," tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Irvan Susandy dan Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Tolle, dalam rilis tersebut.

Pada penawaran umum perdana (IPO) saham, Inti Bangun Sejahtera menetapkan harga sebesar Rp1.000 per saham. Harga tersebut langsung melonjak 50% menjadi Rp1.500 per saham pada perdagangan perdananya Jumat (31/8) kemarin.

Perusahaan penyedia menara telekomunikasi ini melepas 15% atau 154,24 miliar saham dengan raihan dana Rp 154,247 miliar. Adapun PT Sinarmas Sekuritas dan PT OSK Nusadana Securities bertindak sebagai penjamin emisi. 

Hingga akhir tahun, perseroan menargetkan untuk meningkatkan pendapatan menjadi Rp400 miliar dari Rp100 miliar tahun lalu atau meningkat sebesar 400%. 

Adapun target laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) perseroan naik dari Rp50 miliar tahun lalu menjadi Rp300 miliar.

Menurut Felix, kenaikan harga yang terjadi pada saham tertentu, sebetulnya harus diiringi dengan fundamental perusahaan yang kuat.

"Investor harus melihat secara mendalam apakah kenaikan saham yang pesat itu bisa dijustifikasi lewat fundamental dan valuasi aset yang memang baik atau tidak," katanya. (msb)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Irvin Avriano A & Christine Franciska

Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top