Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HARGA KARET: Permintaan CHINA Melemah, Harga Tertekan 2,2%

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Mei 2012  |  17:06 WIB

 

BANGKOK: Harga karet turun ke posisi terdalam untuk 3 hari terakhir, di tengah ekspektasi meningkatnya produksi di Thailand.

 

Harga karet untuk pengiriman November melemah 2,2% menjadi 265,8 yen per kilogram atau setara dengan US$3.350 per ton. Kontrak teraktif melemah 13,2% bulan ini, penurunan terbesar  sejak September.

 

Stok di pelabuhan Qingdao China, pusat pengiriman utama, makin berlimpah karena melambatnya permintaan.

 

“Pasar tidak memiliki dukungan dari fundamental. Permintaan China tidak cukup kuat untuk menyerap pemasokan,” kata Kazuhiko Saito, analis dari Fujitomi Co.

 

Li Xiangou, Kepala Qingdao Exchange mengatakan permintaan dari pembuat ban tampaknya menjadi lemah saat ini. Menurutnya, persediaan di gudang pelabuhan masih sisa lebih dari 200.000 ton.

 

Dia mengatakan penjualan karet oleh investor meningkat untuk menghindari risiko setelah peringkat kredit Spanyol diturunkan.

 

Kelas kredit Spanyol dipotong menjadi B dari BB- oleh Egan-Jones Ratings Co. Hal ini memicu melemahnya euro ke posisi terendah 2 tahun terhadap Dolar AS akibat kekhawatiran investor tentang kemampuan Spanyol untuk rekapitalisasi bank.

 

Menurut Lembaga Karet Thailand, harga komoditas ini tidak berubah pada 116,05 baht setara dengan US$3.64 per kilogram. Kontrak untuk pengiriman September di Shanghai Futures Exchange melemah 1,3% menjadi 24.350 yuan ($ 3,831) per ton. (sekti dewi mayestika/ yus)

 

 

 Berita Terkait: 

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : David Eka Issetiabudi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top