Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NILAI TUKAR gonjang-ganjing, SUPARMA khawatirkan laba bersih

SURABAYA: Beban utang dan ketergantungan bahan baku impor membuat PT Suparma Tbk kesulitan menentukan proyeksi perolehan laba bersih tahun ini menyusul lonjakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS belakangan ini.   Hendro Luhur Direktur PT
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 30 Mei 2012  |  14:10 WIB

SURABAYA: Beban utang dan ketergantungan bahan baku impor membuat PT Suparma Tbk kesulitan menentukan proyeksi perolehan laba bersih tahun ini menyusul lonjakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS belakangan ini.   Hendro Luhur Direktur PT Suparma mengatakan kenaikan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar yang sudah diatas Rp9.500 per US Dollar tidak nyaman untuk kenerja perseroan. Apalagi buat industri manufaktur yang masih bergantung dengan bahan baku impor.Untuk Suparma misalnya, ungkap Hendro, tren kenaikan nilai tukar tersebut dikhawatirkan akan  berdampak pada kinerja laba dari perseroan."Bahkan dalam RUPS yang berlangsung hari ini kami belum bisa menyusun target laba yang ingin diperoleh perseroan pada tahun ini," ujarnya pada paparan publik Suparma di Surabaya hari ini.RUPS, lanjutnya, hanya menyetujui pembagian dividen senilai Rp11,9 miliar atau Rp8 per lembar saham. Porsi dividen ini mencapai 36% dari total laba bersih perseroan selama 2011 sebesar Rp33,1 miliar. Begitu juga dengan penetapan target penjualan bersih 2012 sebanyak Rp1,3 triliun.Hendro mengatakan untuk kinerja laba bersih masih tergantung pada kondisi makro Indonesia. Terutama menyangkut fluktuasi yang terjadi pada nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar.Pasalnya 35% dari bahan baku yakni pulp dengan serat panjang masih harus impor. Sementara itu perseroan juga masih memiliki beban utang dalam bentuk dolar AS. Per Desember 2011 posisi pinjaman tersebut tercatat US$34 juta.Selain itu kenaikan nilai tukar ini akan menyebabkan kenaikan beban bunga. Bahkan jika nilai tukar tersebut tembus Rp10.000 per US Dollar akan ada kenaikan beban bunga sebesar 5,5%."Kalaupun melakukan hedging kenaikannya sudah terlanjur tinggi. Kami khawatir setelah dilakukan penguncian trennya berbalik turun," ungkap Hendro.Menurutnya industri sebenarnya cukup berkepentingan dengan kondisi nilai tukar yang stabil atau fluktuasinya tidak cepat. Namun posisi yang nyaman untuk industri itu, lanjutnya, di kisaran Rp9.200 per US Dollar.Dia berharap pemerintah segera melakukan sesuatu untuk dapat menahan laju nilai tukar tersebut. Dengan begitu pelaku industri bisa segera  melakukan kalkulasi margin.Pasalnya, jika kondisi tersebut  berlangsung lama dan trennya terus meningkat akan banyak industri manufaktur yang mengalami kerugian kurs meski hal itu tidak belum tentu   berdampak pada kinerja penjualan.Suparma, tambahnya tetap optimistis akan mampu membukukan penjualan bersih tahun ini sebesar Rp1,3 triliun. Pada kuartal I 2012 produsen tisu, kertas duplex  dan kertas laminating  tersebut telah mencatat penjualan bersih Rp428 miliar naik 9% dibandingkan periode yang sama 2011. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top