Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KOMODITAS JAGUNGHarga rebound setelah terpuruk di level terendah

MELBOURNE: Harga jagung rebound setelah sempat anjlok ke level terendah dalam sepekan, memicu spekulasi meningkatkan permintaan importir.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 Mei 2012  |  22:32 WIB

MELBOURNE: Harga jagung rebound setelah sempat anjlok ke level terendah dalam sepekan, memicu spekulasi meningkatkan permintaan importir.

 
Jagung untuk pengiriman Juli menguat 0,7% menjadi US$6,1175 per busel dari US$6,1125 di The Chicago Board of Trade pukul 14.26 di Singapura. Kenaikan ini juga diikuti harga gandum untuk pengiriman Juli sebesar 1,3% menjadi US$6,075 dari harga penutupan sebelumnya diposisi US$6,07.
 
Kemarin, harga jagung merosot 2,5%, penurunan terbesar sejak 2 Mei ditengah spekulasi Data Departemen Pertanian US  (USDA) yang  menunjukkan stok dalam negeri mengalami peningkatan.
 
Harga jagung turun 5,4% tahun ini karena petani AS  berniat untuk menanami di lahan terluas sejak 1937. Menurut survei Bloomberg, AS diperkirakan memanen jagung 827 juta basel 
naik dari perkiraan USDA 793 juta  pada akhir bulan ini. 
 
"Fundamental Gandum menunjuk pada sebuah situasi bearish karena memiliki prospek untuk musim depan," kata Michael Creed, Ekonom Agribisnis di National Australia Bank Ltd.
 
Sementara itu, kedelai untuk pengiriman Juli naik 0,8% menjadi US$14,4175 per busel. Komoditas berjangka ini naik 19% selama tahun ini ditengah kekeringan yang diprediksi akan mengurangi produksi di Amerika Selatan. 
 
Pada tanggal 2 Mei, kontrak paling aktif menyentuh US$15,125 per busel, tertinggi sejak Juli 2008. Badan kepabean 
Cina menyebutkan impor kedelai ke Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 4,88 juta per ton pada April, naik dari 4,83 ton pada Maret. Cina merupakan importir kedelai terbesar di dunia.
 
Menurut lembaga peneliti gandum negara tersebut, pembelian kedelai oleh Cina diperkirakan sekitar 6 juta ton dan 5,5 juta ton pada Mei dan Juni, sementara rata-rata impor Cina per bulan 4,6 juta ton pada Juli hingga September. (sut)
 

 

+ JANGAN LEWATKAN:

10 ARTIKEL PILIHAN Hari Ini

5 Kanal TERPOPULER Bisnis.com

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg / Sekti Dewi Mayestika

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top