KINERJA EMITEN: Laba bersih SURYA SEMESTA INTERNUSA naik 89,4%

 
News Editor | 30 April 2012 19:57 WIB

 

JAKARTA: PT Surya Semesta Internusa Tbk membukukan laba bersih selama kuartal pertama tahun ini sebesar Rp222,7 miliar atau melonjak 89,4% jika dibandingkan dengan pencapaian periode yang sama tahun lalu sebesar Rp117,6 miliar.

 

Corporate Public Relation Surya Internusa Utari Sulistiowati mengatakan kawasan industri memberikan kontribusi terbesar terhadap laba bersih konsolidasi setelah dengan membukukan penjualan lahan seluas 43,5 hektar pada triwulan pertama tahun ini.

 

Dia menjelaskan penjualan lahan tersebut setara dengan harga rata-rata penjualan sebesar US$84,4 per meter persegi atau secara total membukukan penjualan lahan industri senilai Rp335,9 miliar.

 

“Jumlah ini lebih besar jika dibandingkan dengan nilai penjualan lahan industri pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp519,3 miliar atau seluas 158,5 hektare dengan harga jual US$36,4 per meter persegi,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Bisnis, Senin 30 April 2012.

 

Meskipun membukukan kenaikan laba bersih, pendapatan perseroan justru mengalami penurunan sebesar 9,6% menjadi Rp883 miliar pada kuartal I/ 2012 dari Rp976,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

 

Menurut Utari, penurunan pendapatan tersebut terjadi seiring dengan penurunan kontribusi divisi usaha properti dan perhotelan.

 

Dia menuturkan unit usaha properti secara keseluruhan yang mencakup kawasan industri dan penyewaan gedung membukukan pendapatan usaha sebesar Rp369,4 miliar, menurun 31,8% dibandingkan dengan Rp541,9 miliar pada kuartal pertama tahun lalu.

 

Sementara itu, lanjutnya unit usaha perhotelan mengalami penurunan 10,5% menjadi Rp96,5 miliar dari semula Rp107,8 miliar. Penurunan tersebut, terangnya diakibatkan oleh adanya renovasi besar di salah satu hotel milik perseroan, Gran Melia, Jakarta sejak Juni tahun lalu.

 

“Pada kuartal pertama tahun ini, kontribusi pendapatan dari Gran Melia hanya Rp22 miliar dari Rp42 miliar pada kuartal pertama tahun lalu,” paparnya.

 

Sementara itu, divisi usaha konstruksi, tutur Utari justru mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 27,5% menjadi Rp417,1 miliar dari Rp327,1 miliar.

 

Contract on hand untuk unit usaha jasa konstruksi di akhir kuartal pertama tahun ini adalah Rp1.77 triliun, meningkat dibandingkan Rp1.35 triliun di akhir periode yang sama tahun lalu,” jelasnya. (ea)

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top