KOMODITAS CPO: Harga turun ke level terendah

 
News Editor | 19 April 2012 21:31 WIB

 

JAKARTA: Harga minyak sawit mentah  atau CPO (crude palm oil) turun ke level terendah dalam hampir 3 minggu akibat kekhawatiran bahwa ekspor dari Malaysia, produsen terbesar kedua di dunia, berpotensi turun bulan ini karena importir menunda pembelian.
 
Harga kontrak CPO untuk penyerahan Juli turun 1% menjadi 3.439 ringgit (US$1.121) per ton atau setara Rp10.346 per kilogram di Malaysia Derivatives Exchange, harga terendah untuk kontrak teraktif sejak 30 Maret. 
 
Harga CPO berada pada RM3.455 pada pukul 15.36 waktu Jakarta. Sebelumnnya, harga bahan baku minyak goreng ini reli ke level tertinggi dalam 13 bulan ke RM3.628 pada 10 April.
 
Penurunan tersebut setelah surveyor Intertek melaporkan ekspor dari Malaysia turun 15% menjadi 594.798 ton dalam 15 hari pertama April dari periode yang sama bulan lalu. Societe Generale de Surveillance menyebutkan pengiriman menurun 13,5%.
 
"Banyak pembeli bermaksud menunggu harga pasar untuk stabil," kata Vijay Mehta, Direktur Commodity Links Pte., dari Singapura. Menurutnya permintaan jatuh setelah reli pada harga berjangka di atas RM3.500 per ton.
 
Mehta juga menuturkan bahwa ekspor selama 20 hari pertama diperkirakan lebih rendah dari bulan sebelumnya dan produksi di Malaysia dapat meningkat bulan ini. Para surveyor akan merilis data terbaru pada Jumat.
 
Perlu diketahui, Dewan Minyak Sawit Malayisa pada 10 April merilis data yang menunjukkan produksi naik 2,1% menjadi 1,21 juta ton pada Maret dari 1,19 juta ton pada Februari.
 
Di tempat lain, harga komoditas subtitusinya justru naik. Harga kedelai untuk penyerahan Juli naik 0,6% menjadi US$14,2175 per bushel di Chicago Board of Trade. Minyak kedelai untuk bulan yang sama naik 0,5% menjadi US$0,5590 per pon.
 
Harga minyak sawit untuk pengiriman September turun 0,3% menjadi 8.828 yuan (US$1.400) per ton di Dalian Commodity Exchange. Minyak kedelai untuk pengiriman bulan yang sama turun 0,2% ke 9.858 yuan.
 
Di Indonesia, harga CPO untuk penyerahan Juli turun Rp110 menjadi Rp10.240 per kg pada Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia pukul 15.15 waktu Jakarta.
 
Penurunan bahan baku minyak sayur dan biodiesel itu terjadi setelah pada Rabu harga minyak mentah global turun terbesar dalam 2 minggu akibat data persediaan AS yang di luar prediksi. Seperti diketahui, data Departemen Energi menunjukkan pasokan minyak AS naik 3,9 juta barel pekan lalu.
 
Adapun, para analis dalam jejak pendapat Bloomberg memperkirakan peningkatan 1,8 Juta barel. Kejatuhan harga didukung pula oleh pernyataan wakil perdana menteri Irak untuk urusan energi bahwa Selat Hormuz tidak mungkin untuk ditutup dan tidak ada kekurangan minyak.
 
Kemarin, harga minyak mentah diperdagangkan mendekati penutupan terendah dalam lebih dari seminggu di New York.
 
"Tren memang mengikuti persediaan tetapi kita belum melihat penurunan dramatis dalam harga komoditas itu," kata Jonathan Barratt, Kepala Eksekutif Barratt’s Bulletin, sebuah terbitan untuk pasar komoditas di Sydney. 
 
Minyak mentah untuk pengiriman Mei berada pada US$102,91 per barel, naik 24 sen,  dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pukul 9.09 waktu London. 
 
Harga kontrak minyak ini melemah 1,5% pada Rabu menjadi US$102,67, penuruanan terbesar sejak 4 April. Kontrak Juni yang lebih aktif diperdagangkan naik 23 sen menjadi US$103,35 per barel. 
 
Sementara itu, harga minyak brent untuk pengiriman Juni naik 0,4% menjadi US$118,43 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. 
 
Hussain al-Shahristani, wakil perdana menteri Irak, mengatakan pasar minyak seimbang dan tidak perlu bagi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mengubah kuota produksi pada Juni jika permintaan tetap pada level saat ini. Para menteri dari OPEC dijadwalkan bertemu 14 Juni di Wina.
 
Irak menjadi tuan pertemuan diplomatik internasional bulan depan untuk membahas upaya dugaan Iran mengembangkan senjata nuklir setelah sanksi membatasi pembelian minyak mentah. Iran telah mengancam akan menutup Selat Hormuz, rute transit seperlima dari minyak dunia, sebagai tanggapan terhadap embargo. (sut)

Sumber : Bloomberg / Taufikul Basari

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top