HARGA MINYAK: Stok naik, harga minyak goyang sedikit ke US$102,75

MELBOURNE: Minyak diperdagangkan mendekati penutupan terendah dalam lebih dari seminggu di New York setelah sebuah laporan pemerintah menunjukkan stok minyak mentah AS naik lebih dari 2 kali lipat dari perkiraan.
News Editor | 19 April 2012 07:34 WIB

MELBOURNE: Minyak diperdagangkan mendekati penutupan terendah dalam lebih dari seminggu di New York setelah sebuah laporan pemerintah menunjukkan stok minyak mentah AS naik lebih dari 2 kali lipat dari perkiraan.

 

Harga minyak berjangka sedikit berubah setelah turun terbesar dalam dua minggu kemarin. Di sisi lain, data Departemen Energi menunjukkan pasokan di AS naik 3,9 juta barel pekan lalu, di atas estimasi analis 1,8 juta barel.

 

Minyak mentah untuk pengiriman Mei berada pada US$102,75 per barel, naik 8 sen, dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pukul 9.39 waktu Sydney.

 

Harga kontrak tersebut kemarin turun 1,5% menjadi US$102,67, penutupan terendah sejak 10 April. Harga 4% lebih tinggi tahun ini.

 

Adapun, minyak mentah brent untuk pengiriman Juni turun 81 sen atau 0,7% ke US$117,97 per barel di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London.

 

Departemen Energi AS mengatakan kilang dioperasikan kurang dari 85% dari kapasitas dalam 2 minggu berturut-turut.

 

Akibatnya, persediaan bensin turun 3,7 juta barel pekan lalu, dibandingkan dengan perkiraan untuk penurunan 1,1 juta barel.

 

Harga juga jatuh setelah wakil perdana menteri Irak untuk energi mengatakan Selat Hormuz tidak mungkin untuk ditutup dan tidak ada kekurangan minyak.

 

Produksi terjaga

Hussain al-Shahristani, Deputi Perdana Menteri Irak untuk urusan energi mengatakan pasar minyak seimbang dan tidak perlu bagi OPEC untuk mengubah kuota produksi pada Juni jika permintaan tetap pada level saat ini.

 

Para menteri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dijadwalkan bertemu 14 Juni di Wina.

 

Irak menjadi tuan pertemuan diplomatik internasional bulan depan untuk membahas upaya dugaan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir setelah sanksi membatasi pembeli minyak mentah.

 

Iran telah mengancam akan menutup Selat Hormuz, rute transit seperlima dari minyak dunia, sebagai tanggapan terhadap embargo. (Bloomberg/Mtb/Bsi)

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Liga Champions: Di balik kekalahan REAL MADRID

+ SIAPA di belakang sepak terjang DAHLAN ISKAN?

+ Berita BISNIS INDONESIA hari ini: Akuisisi Bank Danamon TERGANJAL?

+ BURSA ASIA: NIKKEI tergelincir

+ Mau beli saham JAGUAR dan LAND ROVER?

+ Spanyol menyeret EURO terus terpuruk

 

Sumber : Newswire

Tag :
Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top