KOMODITAS KARET: Kenaikan harga capai level tertinggi

TOKYO: Harga karet meningkat tertinggi dalam 2 bulan setelah Spanyol menjual surat utang lebih dari yang ditargetkan dan Dana Moneter Internasional menaikkan perkiraan ekonomi, mengurangi kekhawatiran permintaan dpat melambat untuk komdoitas yang digunakan
News Editor | 18 April 2012 21:00 WIB

TOKYO: Harga karet meningkat tertinggi dalam 2 bulan setelah Spanyol menjual surat utang lebih dari yang ditargetkan dan Dana Moneter Internasional menaikkan perkiraan ekonomi, mengurangi kekhawatiran permintaan dpat melambat untuk komdoitas yang digunakan dalam ban.

 
Harga karet untuk penyerahan September naik 3,2%, terbesar sejak 17 Februari, menuju 312,3 yen per kilogram atau setara dengan US$3.839 per ton, sebelum menetap pada 311,9 yen di Tokyo Commodity Exchange.
 
Kenaikan itu sejalan dengan reli saham Asia setelah IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhan global pada 2012 menjadi 3,5% dari sebelumnya 3,3%. Hal itu mengurangi kecemasan pasar atas krisis utang Eropa yang menghambat pemulihan.
 
Laju harga itu juga terbantu minyak  yang diperdagangkan mendekati level tertinggi 2 minggu, meningkatkan daya tarik karet alam sebagai alternatif untuk produk sintetis. 
 
"Pasar bereaksi positif terhadap lebih baiknya hasil lelang obligasi Spanyol daripada yang diharapkan. Selera investor kembali untuk aset berisiko," kata Makiko Tsugata, analis perusahaan riset Market Risk Advisory Co, kepada Bloomberg
 
Produk berjangka itu juga menguat karena mata uang Jepang melemah terhadap dolar, membuat kontrak berdenominasi yen lebih menarik bagi investor. Dolar diburu sebelum data AS yang kemungkinan menunjukkan makin sedikit orang Amerika mengajukan tunjangan pengangguran.
 
Di tempat lain, menurut Research Institute of Thailand , harga karet tunai free-on-board di Negeri Gajah Putih naik 0,2% menjadi 117,85 baht (US$3,83) per kilogram.
 
Hujan lebat yang tersebar di seluruh Thailand selatan, daerah produksi utama negara itu, menyebabkan keterlambatan dalam penyadapan karet dan membatasi ketersediaan pasokan. (sut)
 

 

Sumber : Bloomberg / Taufikul Basari

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top