IPO: KOBEXINDO TRACTORS segera lepas 30% saham

 
News Editor | 03 April 2012 19:19 WIB

 

JAKARTA: PT Kobexindo Tractors berencana untuk melepaskan saham perdananya kepada publik maksimal sebesar 30% dari total modal disetor dan ditempatkan penuh.

 

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito mengungkapkan untuk penawaran saham perdana (IPO) tersebut, perseroan telah menunjuk tiga penjamin emisi, yakni PT Mandiri Sekuritas, PT Valbury Asia Securities, dan PT Lautandhana Securindo.

 

“Pelaksanaan mini ekspos baru saja dilakukan hari ini. Saya kurang tahu nilainya, tetapi tidak sampai Rp1 triliun,” ujarnya saat ditemui pers, 3 April 2012.

 

Menurut Eddy, rencananya pencatatan saham perdana perseroan dapat dilakukan pada Juli mendatang. Dia mengungkapkan aksi IPO diperkirakan memang akan mulai marak pada kuartal II ini.

 

Kobexindo merupakan perusahaan distribusi alat berat yang didirikan sejak 2002 silam. Alat berat yang didistribusikan perseroan, mencakup alat berat untuk pertambangan, infrastruktur, dan konstruksi gedung.

 

“Lini bisnis perseroan cukup menarik, yakni distribusi alat berat. Kami harapkan ini bisa menjadi daya tarik bagi pemodal,” ungkap Eddy.

 

Selain Kobexindo, Eddy menuturkan PT Trisula International, perusahaan tekstil, berencana melakukan IPO pada kuartal II/ 2012. Dia mengungkapkan perseroan akan melepas sekitar 30% sahamnya kepada publik.

 

Dia mengatakan Trisula telah menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin emisis efek dalam aksi korporasi tersebut. Untuk target dana IPO, dia menjelaskan nilainya tidak lebih dari Rp500 miliar.

 

Sebelumnya, dua perusahaan telah menyatakan kesiapannya menjadi perusahaan publik. PT Bekasi Fajar Industrial Estate berencana melepas 35% kepemilikannya kepada publik dengan target dana Rp300 miliar.

 

Sementara itu, PT Supra Boga Lestari akan melepas 20%—30% kepemilikan dengan target dana Rp200 miliar—Rp300 miliar. Supra Boga menunjuk PT Kresna Garah Sekurindo, sedangkan Bekasi Fajar memilih PT Ciptadana Securities sebagai penjamin emisi efek.

 

Eddy mengakui selama kuartal pertama tahun ini, penerbitan emisi saham memang lebih sepi jika dibandingkan dengan emisi obligasi. Hal itu, tuturnya karena emiten melihat potensi pendanaan dengan yield yang lebih rendah tahun ini.

 

“Obligasi setiap saat growing. Dengan yield yang relatif rendah, pasti lebih menarik,” ujarnya.

 

Eddy mengatakan saat ini terdapat sejumlah perusahaan di pipeline BEI yang berencana menerbitkan obligasi dengan nilai emisi masing-masing sekitar Rp1 triliun-Rp2 triliun. salah satunya, menurut dia adalah perusahaan tambang.

 

“Ada perusahaan tambang, tapi belum bisa saya sebutkan namanya. Nilainya sekitar Rp1 triliun,” tuturnya.

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top