Konglomerasi (3): Perahu bisnis & politik Grup Hasnur

HAMPIR persis setahun lalu, kami memprediksi akan ada empat grup konglomerasi pemberi kejutan pada Tahun Kelinci ini. Mereka adalah Grup Ridlatama, Grup Rain, Grup Hasnur, dan Grup Modern. Sampai di pengujung tahun ini, kejutan apa yang mereka berikan?Sekadar
Puput Jumantirawan
Puput Jumantirawan - Bisnis.com 09 Desember 2011  |  00:09 WIB

HAMPIR persis setahun lalu, kami memprediksi akan ada empat grup konglomerasi pemberi kejutan pada Tahun Kelinci ini. Mereka adalah Grup Ridlatama, Grup Rain, Grup Hasnur, dan Grup Modern. Sampai di pengujung tahun ini, kejutan apa yang mereka berikan?Sekadar menyegarkan ingatan, prediksi itu dapat dilihat dalam artikel bertajuk Konglomerasi: Menanti kejutan dari yang lahir & kembali, yang dimuat dalam Suplemen Arah 2011, edisi cetak Bisnis Indonesia, 11 Januari 2011. Kali ini, kita akan bahas Grup Hasnur.Suatu malam di pengujung 2003, Akbar Tanjung berbicara di hadapan ratusan kader Himpunan Mahasiswa Islam di Jakarta. Kalimatnya tak mudah dilupakan. “Bagi politisi,” katanya, “Uang itu alat, capaiannya kekuasaan. Kalau pengusaha sebaliknya. Uang itu tujuan, alatnya kekuasaan.”Akbar, yang saat itu memimpin Partai Golkar dan DPR, sepertinya mencoba menarik garis api demarkasi, atau lebih tepat ko-eksistensi, yang membedakan dirinya dengan sejumlah pengusaha besar, yang menjelang Pemilu 2004 itu kian merangsek masuk ke panggung politik nasional.Namun, justru dengan menarik garis ko-eksistensi itu, pada saat yang sama, politisi yang amat jarang tertawa terbahak-bahak ini sekaligus mengonfirmasi keniscayaan, bahwa uang—sebagai salah satu sumber daya politik—makin mendominasi tata kehidupan politik pascareformasi.Konfirmasi itu pula yang mungkin menjelaskan, kenapa setahun berselang, dalam Munas Golkar VII di Bali, dirinya terpental secara menyakitkan, dikeroyok serombongan tentara pensiunan dan pengusaha nasional. Prototipe politisi model Akbar rupanya tak lagi kompatibel dengan zaman.Kompatibilitas yang absen dalam politisi model Akbar itulah yang agaknya dimengerti oleh seorang sahabatnya nun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan: Seorang pengusaha cum politisi, politisi cum pengusaha, bernama Haji Abdussamad Sulaiman Haji Basirun atau disingkat Haji Leman.Pria kelahiran Marabahan, Barito Kuala, 64 tahun silam ini adalah pemegang rekor Ketua DPD I Partai Golkar selama tiga periode berturut-turut, sejak dari kejatuhan Soeharto pada 1998, lalu ke era Habibie, Gus Dur, melintasi Megawati, Yudhoyono, dan niscaya presiden baru kelak!Maklum, dalam Musda VII Golkar Kalsel pada 2009 lalu, tak satu pun peserta berani mencalonkan diri, hingga forum menetapkannya sebagai ketua secara aklamasi. Padahal, dalam forum itu dia sendiri menjagokan kandidat lain—yang ditolak karena kandidat lain itu mengusulkan Haji Leman.Tidak hanya dalam perkara politik, kebesaran Haji Leman di Kalsel juga terasa di berbagai aspek kehidupan. Nama Haji Leman hadir nyaris di seluruh organisasi sosial berpengaruh, termasuk di forum-forum reuni atau kerukunan, sampai olahraga dan pengajian-pengajian.Deskripsi itu mungkin terasa agak berlebihan. Beberapa tahun terakhir ini, pengaruh Haji Leman di panggung politik toh sudah mulai terkoreksi. Pada Pemilu 2009, meski masih mayoritas, raihan kursi Golkar di DPRD I Kalsel turun tipis. Sebaliknya, Partai Demokrat naik signifikan.Namun, dalam Pilkada Gubernur Kalsel 2010, calon yang diusung Golkar menang, sedangkan calon Demokrat kalah. Begitu pula dalam Pilkada Bupati Tabalong, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tapin, dan Barito Kuala beberapa tahun terakhir ini, Golkar masih berjaya.Yang menarik—di luar bertahannya eksistensi Kalsel sebagai lumbung suara Golkar nasional seperti yang juga diakui Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie—di kabupaten-kabupaten itulah tersimpan portofolio utama bisnis Haji Leman, mulai dari batu bara, sawit, dan kayu.Koneksi politikTAK seperti konglomerasi lain di Indonesia yang punya akar jauh ke belakang, kelompok usaha yang dibangun Haji Leman baru tumbuh besar terutama setelah reformasi. Maklum, dia datang bukan dari keluarga kaya. Ayahnya hanya seorang pensiunan tentara. Namun, persentuhannya dengan dunia bisnis praktis sudah dimulai sejak belia. Dengan bermodal perahunya, Haji Leman muda sudah menyusuri Sungai Barito, membeli hasil bumi di hulu, lantas menjualnya ke kota-kota di hilir. Begitu pula sebaliknya.Pada 60-an, usaha dagang hasil buminya mulai berkembang. Haji Leman lalu masuk ke bisnis transportasi sungai, disusul galangan kapal, hingga akhirnya kontraktor kayu. Pada usaha yang terakhir itulah dia mulai menemukan hokinya. Usaha yang sekaligus jadi cikal bakal Grup Hasnur.Usaha kontraktor kayunya itu bermitra dengan Grup Djajanti, salah satu konglomerat terdekat Orde Baru pemilik konsesi hutan terluas di Kalimantan Tengah. Di sinilah, ditambah pemahamannya terhadap situasi sosial-politik di daerah, Haji Leman mulai bisa mengakumulasi modalnya.Tiga dasawarsa kemudian, Haji Leman masuk ke bisnis sawit dan batu bara. Saat itu, mendapatkan konsesi tambang adalah sesuatu yang sangat sukar. Namun, dengan upaya keras dan koneksi politiknya, konsesi tambang seluas 30.000 haktare di Kalteng dan di Kaltim itu pun akhirnya diraih.Koneksi politik sekaligus usaha baru tambang batu baranya itu dibangunnya bersama Asmawi Agani, yang sama-sama berasal dari etnis Bakumpai, subsuku Dayak. Belakangan, pada 1991, Asmawi dilantik menjadi Bupati Barito Selatan, dan bertahan sampai 1996.Meski ada dukungan politik, tentu saja bisnis barunya itu tak langsung berjalan mulus. Beberapa tahun setelah konsesi tersebut diraih dan tambang batu baranya masuk ke tahap produksi, Haji Leman langsung dihadapkan pada fakta yang membuat ‘perahu barunya’ itu sedikit oleng.Sekitar 60.000 ton  batu baranya yang sudah dikapalkan ke Taiwan ditolak karena kadar air yang tinggi dan kandungan kalori yang terlalu rendah. “Sebenarnya saat itu kami hendak menyewa jasa konsultan asing, tapi mahal,” kata Haji Leman dalam wawancara dengan berkala Swa, 5 tahun silam.Untuk menyiasati situasi itu, Haji Leman pun memutuskan menggandeng perusahaan besar yang lebih berpengalaman. Pada 1997, dia membentuk perusahaan patungan dengan raksasa kayu PT Barito Pacific Timber, yang saat itu juga sudah masuk ke batu bara. Peluang pun mulai terbuka.Momentum & konsolidasiAGAK berbeda dengan kebanyakan grup konglomerasi yang nyaris bangkrut dihantam krisis moneter yang diikuti kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, pukulan yang dialami oleh kelompok usaha Haji Leman saat itu, yang memang belum terinfeksi banyak utang, relatif tidak begitu besar.Sebaliknya, gelombang reformasi yang diikuti pergeseran dominasi pengambilan keputusan dari pemerintahan pusat ke daerah itu membuka peluang jauh lebih besar bagi para pelaku usaha di daerah, dan pada saat yang sama, menciptakan iklim kompetisi yang lebih ketat.Pada situasi yang menentukan ini, Haji Leman tampil sebagai Ketua DPD I Golkar Kalsel. Momentum untuk masuk lebih dalam langsung ke inti kekuasaan itu datang lagi tahun berikutnya, ketika sahabat sekaligus mitra bisnisnya, Asmawi Agani mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalteng, dan terpilih.Sejak momentum itulah terutama, yang segera diikuti dengan pemilihan-pemilihan bupati yang juga melibatkannya, pengaruh sosial-politik Haji Leman kian meluas. Bersamaan dengan itu, dengan dukungan generasi keduanya yang mulai masuk ke perusahaan, konglomerasinya pun membesar.Tidak hanya bisnis kayu, sawit dan batu bara saja, hampir seluruh sektor produktif pun dimasuki. Mulai dari jasa logistik, pelayaran, perdagangan, jasa pelabuhan, percetakan, koran, sampai belakangan event organizer, bahkan klub basket dan klub sepakbola, tak luput dari operasinya.Dalam situasi yang kian kompleks itu, pada 2002, Grup Hasnur akhirnya memutuskan melakukan konsolidasi sekaligus restrukturisasi. Prinsip manajemen modern diterapkan. Generasi keduanya, seperti putra sulungnya Hasnuryadi dan bungsunya Zainal Hadi, mulai mengorbit ke permukaan.Setelah masa konsolidasi itu, untuk lini batu bara, dioperasikanlah PT Bhumi Rantau Energi dan PT Energi Batubara Lestari yang berbasis di Tapin. Kedua perusahaan batu bara ini mengelola 9 kuasa penambangan seluas total 4.017 hektare dengan sumberdaya sebanyak 260 juta ton.Di lini kayu, seperti diuraikan dalam situs resmi perseroan, ada PT Barito Putera dan PT Hasnur Jaya Utama di Palangkaraya. Untuk sawit dikelola PT Hasnur Citra Terpadu yang menguasai 12.000 hektare lahan di Tapin. Untuk media dan percetakan, beroperasi PT Citra Kalimantan Mediatama.Untuk bidang infrastruktur, ada kontraktor PT Hasnur Binuang Putra Mulia dan ada pengelola pelabuhan batu bara PT Hasnur Citra Terpadu. Di jasa logistik dan transportasi ada perusahaan pelayaran PT Hasnur Internasional Shipping yang berbasis di Jakarta.Khusus untuk lini tambang, Haji Leman juga menerapkan strategi lamanya, yakni membentuk usaha patungan dengan pemain yang lebih berpengalaman. Saat itu, perusahaan yang digandeng adalah Grup Adaro milik Boy Garibaldi Thohir. Sayang, kerja samanya dengan Adaro tak bertahan.Pasalnya, rencana pengapalan 5 juta ton batu bara dari 9 konsesi tambang Haji Leman itu tidak kunjung bisa terealisasi. Eksplorasi tambang batu baranya yang tersebar di empat kabupaten di Kalteng dan lima di Kalsel itu rupanya tak semudah membalik telapak tangan.Baru 8 tahun kemudian, pada 2010, Grup Hasnur bisa memproduksi 5 juta ton batu bara. Di tahun itu pula, perseroan memutuskan menggandakan produksinya jadi 10 juta ton per 2013. Sesuatu yang serta-merta menggoda raksasa batu bara seperti PT United Tractors Tbk untuk mengakuisisinya.Seraya menampik tawaran akuisisi itu, selama satu tahun terakhir inilah berbagai persiapan penggandaan produksi itu dilakukan, mulai dari penerapan organisasi yang terintegrasi, rekrutmen ahli, sampai penjajakan dukungan finansial, antara lain opsi penawaran saham publik ke bursa.Target baru yang dipasang di luar dugaan: Produksi 18 juta ton per 2018! Apakah ini akan terealisasi? Jujur saya tidak tahu. Tapi selama racikan politik dan bisnis di 'perahu' Haji Leman masih berada pada dosis yang pas, saya kira kita masih akan menantikan kejutan dari Grup Hasnur tahun depan.(bastanul.siregar@bisnis.co.id)

 

Baca juga:

Konglomerasi (1): Raksasa ngumpet bernama Ridlatama

Konglomerasi (2): Kembalinya keluarga Adijanto

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top