Konglomerasi (1): Raksasa ngumpet bernama Ridlatama

HAMPIR persis setahun lalu, kami memprediksi akan ada empat grup konglomerasi pemberi kejutan pada tahun kelinci ini. Mereka adalah Grup Ridlatama, Grup Rain, Grup Hasnur, dan Grup Modern. Sampai di pengujung tahun ini, kejutan apa yang sudah mereka
Puput Jumantirawan
Puput Jumantirawan - Bisnis.com 06 Desember 2011  |  22:07 WIB

HAMPIR persis setahun lalu, kami memprediksi akan ada empat grup konglomerasi pemberi kejutan pada tahun kelinci ini. Mereka adalah Grup Ridlatama, Grup Rain, Grup Hasnur, dan Grup Modern. Sampai di pengujung tahun ini, kejutan apa yang sudah mereka berikan?Sekadar menyegarkan ingatan, prediksi itu dapat dilihat dalam artikel bertajuk Konglomerasi: Menanti kejutan dari yang lahir & kembali, yang dimuat dalam Suplemen Arah 2011, edisi cetak Bisnis Indonesia, 11 Januari 2011. Kali ini, kita akan bahas dulu Grup Ridlatama.Tak seperti grup konglomerasi lain di Indonesia, Ridlatama boleh dibilang adalah kelompok usaha yang paling menutup diri. Tidak pernah ada siaran pers dari grup yang bermula nun di Mojokerto, Jawa Timur ini. Tak pula ada juru bicara yang siap menyediakan informasi.Akhir tahun lalu, situs resmi grup ini bahkan ditutup tanpa ada keterangan apapun. Dengan liputan media yang jarang, alih-alih mengarah pada satu tatanan konglomerasi yang eksesif, asosiasi orang terhadap grup ini boleh jadi mengarah pada satu klub balap motor.Tentu saja asosiasi itu tidak sepenuhnya keliru. Ridlatama memang merupakan sponsor tetap klub balap motor langganan juara nasional, Ridlatama Road Racing. Klub ini dimiliki pemuda berusia kurang dari 40 tahun bernama Novi Indaryono, yang juga komisaris Grup Ridlatama.Yang menarik tentu bukan siapa sebenarnya pemuda itu. Yang jauh lebih menarik, Ridlatama ini adalah konglomerasi baru. Besar di tengah perubahan lanskap politik yang ditingkah krisis demi krisis, umurnya baru 10 tahun —tapi dengan ukuran yang tak bisa diremehkan.Tak banyak yang tahu, di bisnis pertambangan, Ridlatama menghimpun sedikitnya 17 anak perusahaan dengan 29 kuasa penambangan (KP) batu bara seluas 285.087 hektare (ha). Untuk tambang batu alam atau andesit, terdapat satu anak perusahaan dengan luas KP 3.878 ha.Di nikel, ada 4 KP seluas 16.198 ha milik 4 perusahaan. Untuk bauksit ada satu anak usaha dengan 2 KP seluas 16.000 ha. Di tembaga, grup ini memiliki satu anak perusahaan dengan KP 7.256 ha. Tambang emas juga ada. Luas KP-nya 9.809 ha dan dikelola satu anak usaha.Di migas, Ridlatama adalah salah satu grup yang kali pertama masuk ke proyek nasional coalbed methane. Dengan tiga anak usahanya, grup ini mengendalikan dua lisensi eksplorasi gas, di Riau seluas 55.000 ha (9,4 TCF), dan di Kutai Barat 85.000 ha (12,2 TCF).Belum cukup, grup ini juga masuk ke bisnis energi dengan satu anak usaha yang menguasai 2 unit pembangkit, yakni di Indragiri Hulu berkapasitas 2x150 MW dan  di Kutai Timur 2x100 MW. Pelengkapnya, ada satu anak perusahaan khusus di lini bisnis alat berat dan konstruksi.Siapa sebenarnya pengendali grup ini? Bagaimana bisa sebuah kelompok usaha, hanya dalam tempo singkat, di tengah begitu cepatnya perubahan konfigurasi politik yang ditingkah krisis demi krisis, bisa melesat jadi raksasa tambang dan energi di negeri yang banyak korupsi ini?Tentara pensiunanTAK begitu jelas. Selain minim informasi, Ridlatama memang sengaja menghindari publikasi. Basis grup ini di Mojokerto-Jawa Timur, tapi kantor pusatnya di Bintaro—dan seorang broker tambang menginformasikan ada ‘kantor bayangannya’ di kawasan elit M.H. Thamrin Jakarta.Kendali sehari-hari dipegang presdirnya, Anang Mudjiantoro. Anang, seorang profesional tambang ini, praktis bertindak selaku juru bicara grup, mengingat nyaris tak adanya publikasi. Namun, ada satu komisarisnya yang mungkin bisa jadi referensi: Soewadji Prawadina.Penelusuran Bisnis menunjukkan, Soewadji adalah alumnus Akademi Militer Magelang 1970, kakak tingkat Presiden Yudhoyono. Satu angkatan dengan nama-nama beken seperti Luhut B. Pandjaitan, Tyasno Sudarto, Fachrul Rozi, Subagjo, Slamet Kirbiantoro, juga Mardiyanto.Sampai di sini, bukan sesuatu yang sulit sebenarnya untuk menebak siapa sebenarnya orang-orang di balik Ridlatama. Tanpa berpretensi menyimpulkan—karena jamak diketahui banyak pensiunan tentara yang berbisnis tambang—tali-temalinya tetap bisa diurai.Yang lebih penting adalah serangkaian kejutan yang dibuat Ridlatama tahun ini. Memang sangat disayangkan kejutan tersebut tidak berasal dari kinerja proyek batu bara Kutai Timur, Kalimantan Timur yang dikelolanya bersama Churchill Mining Plc dengan porsi 25%-75%.Tambang itu memang tak kunjung berproduksi. Padahal, berdasar riset kelayakannya yang dirilis September tahun lalu, produksi tambang Kutai Timur dimungkinkan dijajaki semester kedua tahun ini, hingga bisa beroperasi penuh sesuai dengan jadwal semula pada 2013.Berdasarkan riset itu pula, produksinya diperkirakan bisa mencapai lebih dari 30 juta ton per tahun. Cadangan batu baranya sendiri bara ditaksir 150 juta ton dengan sumberdaya sebanyak 2,73 miliar ton—terbesar kedua di Indonesia dan ketujuh di dunia.Dengan perkiraan nilai proyek sebesar US$1,8 miliar plus potongan diskon 10% dan taksiran biaya US$1,2 miliar, selama 25 tahun konsesinya, proyek itu diyakini menawarkan sirkulasi dana sebelum pajak hingga US$500 juta per tahun.Sangat disayangkan. Apalagi untuk memastikan itu, Ridlatama dan Churchill telah menunjuk Credit Suisse sebagai penasehat keuangan yang juga akan mengusahakan kontrak penjualan batu baranya kelak, serta Leighton Contractors sebagai penasehat konstruksi tambang.Kejutan yang kemudian kita saksikan nyaris sepanjang 12 bulan terakhir ini datang tidak lain datang dari centang perenang praktik pengusahaan proyek batu bara tersebut. Sebuah praktik pengusahaan bisnis yang khas dunia ketiga, yang penuh intrik dan ketidakpastian.Kawan & lawanKEJUTAN demi kejutan itu bergulir terutama sejak 3 Maret 2011, ketika Pengadilan Negeri Tata Usaha Negara Samarinda menolak gugatan kongsi Ridlatama-Churchill, seraya membenarkan putusan Bupati Kutai Timur, yang menyerahkan konsesi Kutai Timur ke Grup Nusantara.Perseteruan tersebut sampai ke pengadilan karena konsesi proyek Kutai Timur milik kongsi Ridlatama-Churchill sebagian besar di antaranya ‘tumpuk’ atau terinterseksi dengan konsesi milik Grup Nusantara. Adapun, izin konsesi ini dikeluarkan oleh bupati.Perlu diketahui, Grup Nusantara adalah konglomerasi milik pengusaha cum politisi Prabowo Subianto. Adapun, Bupati Kutai Timur adalah bupati yang baru saja dilantik, yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Kaltim sekaligus kandidat Gubernur Kaltim sekarang, Isran Noor.Sebelum Isran dilantik sebagai bupati, dia adalah pelaksana bupati sebelumnya, yakni Awang Faroek Ishak, yang terpilih sebagai Gubernur Kaltim. Dalam satu wawancara dengan Sydney Morning Herald beberapa waktu lalu, Isran mengaku Prabowo adalah kawan baiknya.Putusan PTUN Samarinda itu langsung membenamkan saham Churchill ke GBP27,25 per unit, 70% lebih rendah dari harganya semula, GBP90 per unit. Sepekan kemudian, Churchill pun mengajukan banding melawan keputusan tersebut ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.Selang dua bulan, akhir April, pasar kembali dikejutkan bergabungnya Rachmat Gobel dan Fara Luwia ke Churchill. Keduanya, melalui perusahaan yang dikendalikan Gobel, yakni GL Global Investment Limited, membeli 16% saham Churchill senilai GBP7,7 juta.Masuknya Gobel mengejutkan karena di samping eksistensinya sebagai pemimpin opini di kalangan pelaku bisnis nasional, pewaris kerajaan bisnis keluarga Gobel ini bukanlah orang yang biasa main di tambang. Apalagi, dia punya riwayat perseteruan dengan Prabowo.Orang niscaya belum lupa, bagimana Gobel, yang dengan lugunya, tampil sebagai kandidat Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada Munas IPSI XII pada 2007 silam—sebelum akhirnya mundur dan menyerahkan kursi nomor satu di asosiasi itu ke Prabowo.Dalam penjelasannya ke Bursa Efek London, Churchill menyatakan bergabungnya Gobel akan memperkuat posisinya di Indonesia. Perseroan juga meyakini hal itu membantu upaya penyelesaian kasus hukum proyek Kutai Timur hingga ke tahap produksinya nanti.Tentu saja pasar menyambut hangat Gobel. Sekadar informasi, Churchill sebelumnya juga telah mengangkat mantan Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah Alwi Shihab sebagai komisarisnya. Saham Churchill langsung terangkat 29,14% ke GBP48,75 per unit.Kongsi retakEKSPEKTASI itu rupanya tak bertahan lama. Awal Juli, kongsi Ridlatama dan Churchill tiba-tiba retak. Churchill mengirim nota sengketa ke Ridlatama, atas tuduhan pelanggaran kesepakatan dengan PT Indonesia Coal Development, usaha patungan 75%-25% Churchill-Ridlatama.Pelanggaran itu adalah soal pembayaran. “Ridlatama punya kesempatan untuk menyelesaikan sengketa itu dalam 30 hari. Jika tak ada resolusi, kami akan tuntut Ridlatama, termasuk para individu pemegang sahamnya di di Pengadilan Singapura,” jelas manajemen Churchill.Retaknya kongsi itu langsung melongsorkan harga saham Churchill 6,88% ke GBP37,25 per unit, dan terus meleleh hingga ke bawah GBP20 per unit, setelah pada 8 Agustus Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menegaskan kembali putusan PTUN Samarinda.Lima pekan berselang, 15 September, kongsi retak Ridlatama-Churchill kembali mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Di tengah proses itulah kongsi tersebut akhirnya pecah. Paruh November, dua anak usaha Ridlatama mengakhiri kerja samanya dengan Indonesia Coal.Hingga pada 22 November, Churchill, yang praktis terancam jatuh bubar oleh keputusan banding MA dan kemungkinan ‘tertimpa tangga’ oleh perginya Ridlatama, mengirim ‘surat cinta’ ke Presiden Yudhoyono dan sejumlah pejabat terkait lainnya.Dalam ‘surat cinta’ setebal 72 halaman itu Churchill meminta Presiden Yudhoyono mengintervensi dan menyelesaikan kasus hukum tersebut. Sebab kalau tidak dilakukan, perseroan akan membawa kekecewaannya berinvestasi di Indonesia itu ke arbitrase internasional.Sampai hari ini belum ada tanggapan dari Istana. Sementara itu, harga saham Churchill yang awal Januari masih berada pada kisaran GBP130 per unit, sepanjang tahun berjalan ini sudah tergerus dari 85% ke GBP18,5 per unit, dengan level terendah GBP9,13 per unit.Berani bertaruh, rasanya kita masih akan menantikan datangnya kejutan-kejutan baru dari centang perenang kasus proyek tambang batu bara Kutai Timur ini di tahun depan. Boleh jadi, raksasa ngumpet bernama Grup Ridlatama itu akan mulai menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.(bastanul.siregar@bisnis.co.id)

 

Baca juga: Konglomerasi (2): Kembalinya keluarga Adijanto

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top