Pembatalan kontrak beli dari Eropa pangkas harga karet

MEDAN: Sejumlah pembeli karet dari Eropa khususnya Italia membatalkan kontrak pembelian dari China, sehingga stok karet negara Tirai Bambu itu menumpuk.Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Medan Amri Siregar mengatakan kontrak pembelian
Andi Suhendri Rambe
Andi Suhendri Rambe - Bisnis.com 05 Desember 2011  |  17:20 WIB

MEDAN: Sejumlah pembeli karet dari Eropa khususnya Italia membatalkan kontrak pembelian dari China, sehingga stok karet negara Tirai Bambu itu menumpuk.Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Medan Amri Siregar mengatakan kontrak pembelian karet oleh Italia dari China sudah banyak yang dibatalkan dan imbasnya harga karet di pasar global mendekati US$3 dolar atau jauh di atas harga tahun lalu di atas US$4 dolar per kilogram."Harga karet [jenis TSR] memang masih bertahan pada kisaran US$3,33 sampai US$3,34 per kilogram karena dipicu rencana tiga produsen utama karet dunia menghentikan ekspor karet jika harga berada di bawah US$3 per kilogram," ujarnya kepada wartawan di Medan hari ini.Menurut dia, tahun 2012 harga karet diperkirakan akan tetap pada kisaran US$3-US$4 per kilogram karena ekonomi Amerika dan Eropa masih belum pulih dari krisis ekonomi.Dia mengakui, karena krisis yang melanda negara Italia, pabrikan mobil dan produsen ban di negara itu membatalkan kontrak pembelian karet dari China.Padahal, jelasnya, China adalah salah satu negara pembeli karet terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan Jepang.Amri melihat hal yang perlu dilakukan negara produsen karet terutama perusahaan penghasil karet di Indonesia adalah memanfaatkan situasi ini untuk melakukan peremajaan karet, sehingga produksi dapat ditekan.Secara terpisah, Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah menilai faktor penyebab turunnya harga karet tahun ini multi komplek a.l. kondisi perekonomian tiga negara konsumen karet dunia (Amerika Serikat, China, dan Jepang) belum pulih dari krisis."Ekonomi China sedikit mengalami pelambatan pertumbuhan. Sedangkan Amerika dan Jepang belum bisa recovery dari krisis," tuturnya.Jadi, kata dia, walaupun dari sisi produksi karet Indonesia mengalami penurunan sekitar 30 persen, belum membuat harga karet membaik.Demikian juga Thailand yang sudah memangkas produksinya sekitar 150.000 ton tahun ini, paparnya, belum mampu mengangkat harga karet di mendekati US$4 per kilogram.Hal ini terjadi, kata dia, karena sejumlah spekulan ikut bermain dan memainkan peranan, sehingga harga future karet bisa dimain-mainkan.Dengan keluarnya ancaman tiga negara produsen utama karet dunia menghentikan ekspor karet alam jika harga di bawah US$3 per kilogram, para spekulan yang selama ini memainkan harga tidak berani bermain-main, sehingga harga karet tetap berada di atas US$3 per kilogram."Tiga negara produsen karet dunia harus benar-benar kompak untuk memangkas produksi karet 2012, sehingga harga bisa terkerek mendekati US$4 per kilogram," tuturnya. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top