Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga emas terbebani penguatan dolar AS

SINGAPURA: Harga emas jatuh mengikuti penurunan komoditas lainnya, setelah bantuan untuk Yunani dihentikan sebelum negara itu mereferendum rencana dana talangan. Harga emas untuk pengiriman segera tercatat turun 0,8% menjadi US$1.724,88 per ounce
News Editor
News Editor - Bisnis.com 03 November 2011  |  09:39 WIB

SINGAPURA: Harga emas jatuh mengikuti penurunan komoditas lainnya, setelah bantuan untuk Yunani dihentikan sebelum negara itu mereferendum rencana dana talangan. Harga emas untuk pengiriman segera tercatat turun 0,8% menjadi US$1.724,88 per ounce dan diperdagangkan pada level US$1.726,60 pukul 9:51 di Singapura. Harga emas untuk pengiriman Desember merosot 0,2% menjadi US$1.726,20 per ounce di Comex di New York. "Emas terbebani oleh kerugian di pasar lain dan penguatan dolar AS sejalan ketidakpastian krisis Eropa," kata Huang Wei, analis Huatai Great Wall Futures Co di Shanghai hari ini. Euro turun 0,6% terhadap dolar AS setelah Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengatakan Yunani tidak akan menerima se-sen bantuan pun tanpa memenuhi semua persyaratan dalam perjanjian bailout. Emas cenderung bergerak terbalik terhadap mata uang AS. "Namun, ketidakpastian yang sama pada akhirnya akan mendorong emas lebih tinggi karena masih jadi tempat yang aman dan mata uang alternatif," katanya. Menurut Perdana Menteri Yunani George Papandreou referendum mungkin digelar pada 4 Desember. Adapun harga spot perak turun 1,3% menjadi US$33,82 per ounce sebelum diperdagangkan pada US$33,895. Spot platinum turun 0,6% menjadi US$1.594 per ounce dan paladium merosot 1,3% menjadi US$643,50 per ounce. (Taufiku Basari/tw) 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Nadya Kurnia

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top