Waduh! Harga gandum terpukul

CHICAGO: Harga gandum menurun ke level terendah dalam lebih dari 2 bulan, yang diikuti jagung dan kedelai di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang meningkat akan meredam permintaan.   Gandum untuk pengiriman Desember terpankas
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  15:59 WIB

CHICAGO: Harga gandum menurun ke level terendah dalam lebih dari 2 bulan, yang diikuti jagung dan kedelai di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang meningkat akan meredam permintaan.   Gandum untuk pengiriman Desember terpankas 1,4% menjadi US$6,575 per bushel, harga terendah untuk kontrak paling aktif di Chicago Board of Trade sejak Juli 12. Kontrak ini diperdagangkan pada US$6,5825 per bushel pada pukul 14:20 waktu Singapura. Federal Reserve AS kemarin mengatakan akan terjadi "risiko penurunan yang signifikan" untuk prospek ekonomi, termasuk di pasar keuangan global. Sehari sebelumnya, Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan global dan meramalkan akibat-akibat yang parah jika Eropa tidak bisa mengatasi krisis utang atau pembuat kebijakan AS menemui jalan buntu atas rencana fiskal. "Itu benar-benar penggerak utama dalam jangka pendek," kata Michael Pitts, direktur penjualan komoditas di National Australia Bank Ltd, seperti dikutip Bloomberg. "Kami melihat aksi jual di tengah risiko finansial pada seluruh komoditas yang besar, seluruh mata uang." Sementara itu harga jagung untuk pengiriman Desember kehilangan 1,2% menjadi US$6,7725 per bushel sebelum diperdagangkan di US$6,8025. Telvent DTN Inc mengatakan dalam laporan perkiraan cuaca bahwa kondisi basah dan dingin yang tidak menguntungkan untuk tanaman diperkirakan berlaku di dataran AS utara selama beberapa hari berikutnya. "Situasi cuaca di AS belum tentu membaik," kata Pitts. "Itu harusnya mendukung untuk pasar, tapi kami tidak melihat itu terjadi." Adapaun harga kedelai untuk pengiriman November menurun 0,9% menjadi US$13,0825 per bushel sebelum diperdagangkan pada US$13,1075.(api)    

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg/M. Taufikul Basari

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top