MSCI Asia Pacific Index turun 1,7%

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  08:39 WIB

 

JAKARTA: Saham Asia dan minyak merosot, sementara Won Korea Selatan tergelincir ke level terendah satu tahun, setelah Federal Reserve  menyatakan bahwa ekonomi AS sebagai "risiko penurunan yang signifikan" setelah Investor Service Moody menurunkan peringkat utang bank-bank AS.
 
MSCI Asia Pacific Index turun 1,7% pada 09:21 di Tokyo. Standard & Poor 500 Index berjangka naik 0,1% setelah penurunan tiga hari indikator perdagangan saham AS.
 
Minyak kehilangan 1,8% di New York dan tembaga turun 1,6% di London. Won Korea Selatan tenggelam 2,3%. Dolar Selandia Baru turun 0,6% setelah sebuah laporan pemerintah menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal terakhir hampir terhenti.
 
Saham keuangan memiliki andil terbesar pada indeks MSCI Asia karena kekhawatiran rencana Fed untuk membeli US$400 miliar obligasi dengan jangka waktu enam sampai 30 tahun hingga Juni.
 
Rencana "Operasi twist", mirip dengan program pada tahun 1961, mungkin akan gagal menurunkan tingkat pengangguran 9,1%, menurut 61% ekonom yang disurvei oleh Bloomberg sebelum pengumuman.
 
Shane Oliver, kepala strategi investasi di AMP Capital Investors Ltd yang berbasis di Sydney dan mengelola dana hampir US$100 miliar  mengatakan bahwa investor bereaksi dengan menjual saham yang turun, komoditas dan aset pertumbuhan lainnya.
 
Sekitar 10 saham menurun untuk setiap satu yang naik pada MSCI Asia Pasifik Index. Nikkei 225 Stock Average di Jepang merosot 1,3%, indeks Kospi Korea Selatan turun 2,2% dan S&P/ASX 200 Index di Australia kehilangan 2%. Mitsubishi UFJ Financial Group Inc, bank terbesar di Jepang berdasarkan nilai pasar, turun 2,1%,
 
S&P 500 merosot 2,9% kemarin setelah Moody`s memangkas peringkat kredit pada Bank of America Corp dan Wells Fargo & Co. Peringkat Citigroup Inc jangka pendek juga dipotong oleh Moody. The Fed mengatakan akan menginvestasikan kembali utang jatuh tempo perumahan ke mortgage-backed securities bukan obligasi. (ln)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lahyanto Nadie/Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top