Rupiah ditutup pada 9.018 per dolar

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 September 2011  |  18:14 WIB

 

JAKARTA: Rupiah sore ini ditutup melemah 1,4% menuju 9.018 per dolar AS dipicu pengalihan dana dari aset berisiko di negara berkembang.  
 
Menurut Kepala Eknom PT Bank Nasional Indonesia Rosady T.A. Montol, turunnya rupiah karena pelaku pasar investasi cenderung menghindari risiko (risk aversion) dan memindahkan portofolionya ke asset yang lebih aman (flight to safety). 
 
Penurunan rupiah cenderung dikendalikan oleh kekhawatiran yang disebabkan krisis utang Eropa yang belum menemukan solusi. Rosady mengatakan harusnya Bank Indonesia memiliki cukup devisa untuk mengendalikan gejolak nilai mata uang. “Penting bagi BI untuk tetap berada di pasar dan menunjukkan eksistensinya,” katanya. 
 
Meskipun kondisi global terganggu, semestinya ekonomi Indonesia tidak terpengaruh secara signifikan. Rosady beralasan secara fundamental Indonesia didominasi konsumsi domestik, bukan oleh ekspor. “Para analis berekspektasi bahwa akan terjadi pengurangan pemasukan dari negara-negara eksportir , termasuk Indonesia,” ujarnya. 
 
Pelemahan rupiah itu adalah yang terbesar di antara mata uang Asia lain, didorong pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Berdasar data Bloomberg, rupiah ditutup pada 9.018 per dolar atau turun 1,4% dan sempat menyentuh Rp9089.
 
Lembaga keuangan internasional itu menurunkan estimasi pertumbuhan untuk tahun ini menjadi 4% dari sebelumnya 4,4%. Sementara untuk 2012, IMF memangkas proyeksinya dari semula tumbuh 4,5% menjadi 4%. Mereka juga memprediksi akan adanya kejatuhan yang “parah” jika Eropa tidak mampu mengatasi krisis utang. (ln)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Taufikul Basari/Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top