Bursa AS jatuh dipicu proyeksi ekonomi IMF

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 September 2011  |  22:30 WIB

 

JAKARTA: Saham AS menurun karena masih dibayangi pembicaraan utang Yunani sehingga Indeks 500 Standard & Poor turun. Penurunan itu dipicu oleh Dana Moneter Internasional yang memangkas proyeksi pertumbuhan global.
 
Dow Chemical Co dan Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc kehilangan setidaknya 1,1%, yang dipicu oleh fluktiasinya produsen komoditas.
 
S&P 500 turun 0,1% menjadi 1.202,96 pada 09:56 waktu New York. Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 16,12 poin, atau 0,1% ke posisi 11.384,89.
 
"Pasar ini akan memiliki tingkat volatilitas," kata Keith Wirtz, chief investment officer at Fifth Third Asset Management di Cincinnati, dalam wawancara telepon. "Kita harus mempersiapkan gagasan bahwa Eropa akan menjadi berita untuk beberapa tahun ke depan. Risiko resesi telah meningkat."
 
Saham mengalami penurunan di tengah kekhawairan bahwa Yunani akan gagal memenuhi syarat yang dibutuhkan untuk memperoleh bantuan keuangan guna menghindari default utang.
 
Antara April 29 dan 8 Agustus, S&P 500 turun sebanyak 18% karena para investor berspekulasi bahwa krisis Eropa akan mengancam ekonomi global. Sejak itu, indeks telah pulih 7,6% hingga kemarin.
 
Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan meramalkan berdampak "parah" jika Eropa tidak menyelesaikan krisis utang atau jika pembuat kebijakan AS mencapai jalan buntu atas rencana fiskal.
 
Perekonomian dunia akan meningkat 4% tahun ini dan berikutnya, IMF mengatakan hari ini, dibandingkan dengan perkiraan Juni 4,3% pada 2011 dan 4,5% pada 2012. Proyeksi pertumbuhan AS 2011 diturunkan menjadi 1,5% dari 2,5% pada Juni.
 
Pejabat Federal Reserve mungkin mengusulkan langkah-langkah baru untuk memulihkan perekonomian ketika Komite Pasar Terbuka Fed menyelesaikan pertemuan dua hari besok.
 
Ben S. Bernanke, gubernur bank sentral, "siap untuk menggunakan alat-alat yang sesuai." (Ln)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top