Ekonomi melambat, harga bahan baku turun

SINGAPURA: Para pengelola dana memangkas perkiraan kenaikan harga atas bahan baku untuk pertama kalinya dalam 5 minggu karena spekulasi bahwa permintaan untuk makanan, bahan bakar dan logam akan menurun seiring semakin dalamnya krisis utang Eropa.Pada
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 September 2011  |  12:34 WIB

SINGAPURA: Para pengelola dana memangkas perkiraan kenaikan harga atas bahan baku untuk pertama kalinya dalam 5 minggu karena spekulasi bahwa permintaan untuk makanan, bahan bakar dan logam akan menurun seiring semakin dalamnya krisis utang Eropa.Pada pekan yang berakhir 13 September 2011, spekulan menurunkan posisi jangka panjang (net-long) dalam 18 komoditas sebesar 5,2% menjadi 1,21 juta kontrak berjangka dan opsi.Data pemerintah yang disusun oleh Bloomberg itu menunjukkan penurunan pertama sejak awal Agustus. Posisi net-long mengindikasikan pemegang kontrak berharap harga akan naik dalam jangka waktu tertentu pada masa depan.Pengelola dana memangkas taruhan bullish atau tren kuat pada tembaga sebesar 91% dan menjadikan bearish atau melemah pada gandum untuk pertama kalinya dalam 4 minggu. Perkiraan akan reli harga emas, jagung dan bensin juga berkurang.Menurut data dari Komisi Perdagangan Komoditi Berjangka AS pada pekan yang berakhir 13 September, hedge fund dan manajer uang lainnya memotong posisi jangka panjang dalam tembaga jadi 300 kontrak, dibandingkan dengan 3.221 kontrak pada minggu sebelumnya.Harga kontrak tembaga untuk pengiriman Desember turun 0,7% menjadi US$3,9030 per pon pada Comex di New York pukul 8:59 waktu Singapura, setelah kehilangan 1,8% pekan lalu dan jatuh 3% pada minggu sebelumnya.Stok tembaga global telah naik 4,7% sejak 1 Juli, sinyal permintaan berkurang. Fluktuasi harga logam yang digunakan untuk perangkat rumah, kendaraan dan mobil, telah dipakai oleh para ekonom termasuk mantan Ketua Federal Reserve Alan Greenspan sebagai indikator untuk prospek ekonomi. Harga tembaga di New York telah turun 16% sejak menyentuh rekor pada bulan Februari."Logam industri, dengan tembaga sebagai barometer, mengindikasikan ada ketakutan di luar sana," kata Jeffrey Sherman, yang membantu mengelola US$ 16 miliar untuk DoubleLine Capital di Los Angeles, seperti dikutip Bloomberg.Indeks Standard & Poor GSCI dari 24 komoditas telah jatuh 14% sejak mencapai level tertinggi dalam 2 tahun pada April seiring efek soal utang meningkat di Eropa dan AS menimbulkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan global akan mandek.Menteri keuangan Eropa memutuskan upaya-upaya untuk menopang perekonomian yang goyah dan tidak memberikan indikasi memberikan bantuan untuk pemberi pinjaman pada pertemuan 16 September."Orang-orang takut akan adanya kontraksi global, berdasarkan semua yang terjadi di Eropa," kata Sherman. (Taufikul Basari/Faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top