Pengusaha kopi khawatir persaingan tidak sehat

LIWA,Lampung Barat: Pengusaha kopi luwak di Liwa khawatirkan  adanya persaingan usaha maupun harga yang tidak sehat sehingga mempengaruhi kualitas komoditi yang sudah mendunia itu."Ada oknum yang merusak harga dengan menjual lebih murah sementara
nurul
nurul - Bisnis.com 17 September 2011  |  12:41 WIB

LIWA,Lampung Barat: Pengusaha kopi luwak di Liwa khawatirkan  adanya persaingan usaha maupun harga yang tidak sehat sehingga mempengaruhi kualitas komoditi yang sudah mendunia itu."Ada oknum yang merusak harga dengan menjual lebih murah sementara kualitas kopinya diragukan apakah murni jenis Luwak. Mereka bisa menjual produk melebihi dari jumlah musang yang dipelihara," kata Wahyu Anggoro, produsen kopi Luwak Original.Kopi luwak, ujarnya, memiliki keunikan rasa karena diproses dari kopi yang  keluar dari kotoran musang. Setiap hari jumlah biji kopi yang keluar dari kotoran  musang sudah terukur dan bisa diperhitungkan."Ini penting karena kopi Luwak selain keluar dari feses musang juga harus memperhatikan proses pengolahannya sehingga bisa menghasilkan kopi kualitas nomor satu," jelasnya.Namun dengan  banyaknya permintaan kini banyak bermunculan produsen kopi luwak yang bisa menjual dalam jumlah yang lebih besar meski hanya memelihara sedikit musang.Pihaknya khawatir citra Liwa atau Lampung Barat sebagai penghasil kopi Luwak bermutu di dunia internasional menjadi tercemar dengan cara pengolahan dan persaingan harga yang tidak sehat.Saat ini, ujarnya, harga dalam bentuk bijian Rp 350 ribu/ kg dan untuk dalam bentuk bubuk pasarannya Rp 600 ribu/kg sementara harga kopi biasa Rp 40 ribu/kg.Untuk  komoditi ekspor biji kopi Luwak harganya sudah dua kali lipat dari harga lokal. Permintaan selain dari cafe di Jakarta, Bali, Batam dan kota-kota besar lainnya juga datang dari Hong Kong, Taiwan, Korea."Pembeli umumnya datang langsung dari nusantara maupun mancanegara. Tingginya permintaan perlu diimbangi dengan pengawasan dari pemerintah misalnya Kementrian dan Dinas Kehutanan setempat agar usaha pemeliharaan dan penangkaran musang dilakukan dengan benar," kata Wahyu Anggoro.Wahyu yang memelihara 30 musang bisa menghasilkan biji kopi Luwak sekitar Rp 400-600 kg/ bulan. Menurut dia dari 5 kg biji kopi yang disiapkan sebagai makanan musang, maka hanya sekitar 1 kg yang dimakan dan dikeluarkan kembali hanya sekitar 2 ons biji kopi/ hari dari satu ekor musang peliharaannya."Proses pengolahan butuh  pembinaan dan pengawasan dari instansi terkait sehingga kopi Luwak dari Liwa tetap dapat menghasilkan grade terbaik," tandasnya.Sementara itu Dirjen Pemasaran Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar mengatakan sejak dua tahun terakhir pihaknya aktif mempromosikan kopi Luwak di bursa-bursa wisata internasional seperti ITB Berlin."Pengungjung dan pecinta kopi rela antri sampai panjang di paviliun Indonesia. Kita ingin dunia tahu asal usul kopi Luwak yang terkenal di dunia dan harganya per cangkir sangat mahal adalah dari Liwa, Lampung Barat," kata Sapta.Strategi promosi horisontal dan melalui komunitas pecinta kopi di seluruh dunia akan memperkuat RI sebagai destinasi wisata dunia.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top