IEA stop pencairan minyak mentah ke pasar

PARIS: Badan energi internasional (International Energy Agency/IEA) akan menghentikan  pelepasan minyak dari cadangan strategisnya yang dilepas sejak Juni lalu menyusul asumsi produksi Libya yang telah tertangani.Kebijakan itu ditempuh setelah 28
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 September 2011  |  09:04 WIB

PARIS: Badan energi internasional (International Energy Agency/IEA) akan menghentikan  pelepasan minyak dari cadangan strategisnya yang dilepas sejak Juni lalu menyusul asumsi produksi Libya yang telah tertangani.Kebijakan itu ditempuh setelah 28 negara anggotanya menyimpulkan gangguan pasokan Libya telah berhasil ditangani dengan kombinasi aksi kolektif IEA dan peningkatan produksi dari negara-negara produsen, tulis AFP.IEA, kutip Antara, yang mewakili negara-negara konsumen minyak utama, meluncurkan pelepasan (pencairan) kolektif pada 23 Juni untuk mengkompensasi hilangnya 1,6 juta barel per hari produksi minyak Libya yang sudah mulai mempengaruhi pasar.Harga minyak mentah kualitas Brent North Sea berkisar antara US$105 per barel dan US$120 per barel sejak Mei, dengan pengumuman pelepasan stok IEA pada Juni menyebabkan penurunan tajam sekitar US$10 dolar AS per barel.Kemarin, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Oktober melonjak US$2,78  menjadi US$115,18 per barel di akhir transaksi London setelah IEA mengatakan pihaknya menghentikan pelepasan stoknya.Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Oktober, naik US$0,75 menjadi US$89,66 per barel.Namun, IEA juga menekankan kebijakan tindakan kolektif tersebut masih dapat diperbarui setiap 30 hari .Goldman Sachs memperkirakan minyak mentah berpotensi mencapai level US$130 dolar AS per barel dalam setahun karena kuatnya permintaan Asia yang mengimbangi perlambatan ekonomi di Barat.Dengan perkiraan itu, negara-negara anggota IEA setuju kebijakan untuk ikut mendongkrak stok pasar di kisaran 60 juta barel minyak mentah dan produk minyak, dengan 38 juta barel dilepas dari stok pemerintah dan 22 juta barel melalui relaksasi aturan stok wajib pada perusahaan swasta. (arh) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Aprika R. Hernanda

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top