Harga karet rawan pelemahan

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 14 September 2011  |  14:01 WIB

 

BANGKOK: Harga karet mengalami penurunan di tengah spekulasi perlambatan pertumbuhan di wilayah Asia dan krisis utang Eropa yang akan menurunkan permintaan komoditas ini.
 
Kontrak pengiriman karet pada Februari merosot sebanyak 0,7% menjadi 362,2 yen per kilogram atau setara US$4.707 per ton, sebelum diperdagangkan di level 362,5 yen di Tokyo Commodity Exchange pada pukul 01.44 waktu setempat. 
 
Asian Development Bank (ADB) telah memotong proyeksi pertumbuhan 2011 untuk kawasan Asia, kecuali Jepang. 
 
Bank pembangunan di Asia ini memotong perkiraan pertumbuhan 2011 dari estimasi April 7,8% menjadi 7,5%. ADB menaikkan estimasi inflasi di wilayah timur ini dari 5,3% menjadi 5,8% tahun ini.
 
ADB juga melaporkan inflasi akan memberikan tekanan pada pembuat kebijakan regional untuk mengelola kenaikan harga. Pemulihan ekonomi global bahkan diprediksi akan mengurangi pertumbuhan ekonomi Asia. Saat ini, mata uang Asia tengah melemah, dipimpin oleh Korea Selatan.
 
Chaiwat Muenmee, analis broker komoditas DS Futures Co, mengungkapkan perubahan perkiraan pertumbuhan negara-negara Asia oleh ADB berpotensi mengangkat kekhawatiran terjadinya perlambatan ekonomi yang akan mencederai permintaan. 
 
“Selain itu, dipengaruhi pula oleh masalah utang Eropa yang masih belum terselesaikan," kata Muenmee di Bangkok seperti dikutip Bloomberg, hari ini.
 
Sepanjang tahun ini, harga karet telah mengalami penurunan hingga 12%, setelah mencapai rekor 535,7 yen pada 18 Februari di tengah kekhawatiran krisis Eropa yang akan merugikan pemulihan ekonomi global.
  
Institut Penelitian Karet di Thailand melaporkan harga tunai karet dari Thailand di level 141,4 baht (US$4,67) per kilogram hari ini.  Sementara Di Shanghai, perdagangan karet untuk pengiriman Januari turun hingga 12% menjadi 33.045 yuan (US$5.167) per ton pada istirahat tengah hari. 
 
"Banjir di Thailand menyebabkan kekhawatiran atas kondisi pasokan karet. Sementara itu, situasi ekonomi makro juga masih belum stabil," ujar Ker Chung Yang, analis Philip Futures Pte di Singapura. (arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lavinda

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top