Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wah, Posisi Yen kembali menguat

SIDNEY: Langkah pemerintah Jepang melakukan stimulus moneter untuk menahan penguatan yen ternyata tak membuahkan hasil. Nilai yen justru menguat terhadap seluruh mitra utamanya setelah investor mengabaikan pengumuman Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 Agustus 2011  |  17:05 WIB

SIDNEY: Langkah pemerintah Jepang melakukan stimulus moneter untuk menahan penguatan yen ternyata tak membuahkan hasil. Nilai yen justru menguat terhadap seluruh mitra utamanya setelah investor mengabaikan pengumuman Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda atas penggelontoran dana sebesar US$100 miliar. Yen menghapus penurunan terhadap dolar justru ketika Noda mengumumkan bahwa pemerintah akan merilis cadangan mata uang asing ke sebuah agen kredit ekspor yang dikelola negara untuk memfasilitasi investasi luar negeri. "Ini hanya ‘rintihan’ dari pemerintah Jepang dan yang mengesankan masyarakat hanya perlu melihat pergerakan harga dolar terhadap yen. Saya tidak terlalu terkesan dengan kebijakan pemerintah dan saya tidak yakin pasar valuta asing juga terkesan," kata Robert Rennie, chief currency strategist Westpac Banking Corp di Sidney seperti dikutip Bloomberg. Yen diperdagangkan pada 76,65 per dolar pada 06.28 di London dari kurs sebelumnya 76,66 di New York kemarin, setelah sempat jatuh hingga ke level 76,87 per dolar. Program pendanaan selama satu tahun tersebut dimaksudkan agar mendorong sektor swasta untuk menukar yen dengan mata uang asing. Selain itu, dilaksanakan pula untuk mendukung ekspor perusahaan kecil dan menengah, mengamankan sumber daya energi, dan membantu perusahaan Jepang untuk membeli perusahaan asing. Head of global currency strategy Credit Agricole CIB Mitul Kotecha mengatakan pengumuman pemerintah tersebut merupakan hal yang tidak mungkin memberikan banyak dampak pada nilai tukar. “Pergerakan ini tampaknya tidak mungkin meningkatkan permintaan untuk pembeliaan di luar negeri,” tegas Kotecha di Hongkong. Sementara itu, Moody investor service menurunkan peringkat kredit Jepang satu tingkat menjadi Aa3, dengan outlook stabil. Lembaga pemeringkat tersebut mengutip bahwa prospek pertumbuhan ekonomi yang lemah akan membuat pemerintah sulit mengendalikan beban utang publik terbesar di dunia. Yen cenderung menguat selama masa krisis keuangan karena ekspor --sebagai penumpu ekonomi Jepang, tak membutuhkan modal asing yang seimbang dengan akun saldo. Mata uang yang kuat akan mencederai daya saing eksportir. Departemen Keuangan Jepang juga mengatakan pihaknya akan meningkatkan pemantauan pasar mata uang. Untuk itu, dibutuhkan lembaga keuangan yang besar untuk mengungkapkan posisi perdagangan. (Lavinda/faa)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top