Harga karet diprediksi menguat

JAKARTA: Harga karet kembali naik seiring ekspektasi berkurangnya pasokan komoditas tersebut dan meningkatnya harga minyak.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 27 Desember 2010  |  12:50 WIB

JAKARTA: Harga karet kembali naik seiring ekspektasi berkurangnya pasokan komoditas tersebut dan meningkatnya harga minyak.

Pengurangan pasokan komoditas tersebut disebabkan Thailand sebagai eksportir utama karet akan memasuki musim rendah produksi pada awal tahun depan.

Harga kontrak karet untuk periode pengiriman Juni tahun depan sempat naik 0,7% menjadi 419,3 yen per kg (US$5.069 per metrik ton) dalam perdagangan di Bursa Komoditas Tokyo yang berlangsung kemarin sebelum akhirnya bertahan pada level 417,6 yen. Sepanjang tahun ini harga komoditas tersebut telah naik 51%.

Produksi getah karet di Thailand diperkirakan menyusut seiring berkurangnya proses penyadapan pada periode musim dingin yang berlangsung Februari-April 2011.

Hari ini, harga tunai karet di negeri Gajah Putih tersebut naik sebesar 0,3% ke rekor 149,55 bath per kg, didorong oleh keterbatasan pasokan dari provinsi Thailand bagian selatan di tengah permintaan yang kuat atas komoditas tersebut.

Analis Fujitomi Co. Kazuhiko Saito memprediksi gejala penurunan produksi musiman yang terjadi di Thailand pada awal tahun depan akan mengganggu pasokan. Padahal, lanjutnya, permintaan akan tetap tumbuh seiring penjualan mobil di China dan India.

Proyeksi tersebut didorong oleh aksi pembelian yang dilakukan investor. Pasar juga akan lebih aktif seiring kenaikan harga tembaga dan minyak menyusul proyeksi pemulihan ekonomi akan meningkatkan permintaan komoditas industri, ujarnya seperti dikutip Bloomberg, hari ini.

Selain itu, harga kontrak karet untuk pengiriman Mei di Shanghai Futures Exchange terkoreksi 0,5% menjadi 37.110 yuan (US$5.596) per ton setelah naik lebih dulu sebesar 1,3% menjadi 37.800 yuan. Harga karet pernah naik mencapai rekor 38.920 yuan pada 11 November 2010.

Soeharto, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), memperkirakan pasokan komoditas karet global pada tahun depan masih terganggu tingkat curah hujan yang diperkirakan tetap tinggi.

Padahal, tambahnya, permintaan karet justru berpotensi tumbuh seiring pemulihan ekonomi di negara maju seperti Amerika dan Jepang serta kondisi ekonomi yang relatif stabil di dua negara konsumen karet terbesar di dunia yaitu China dan India.

Pasokan karet secara global masih terganggu curah hujan yang lebih tinggi dari normal. Saya memperkirakan permintaan karet pada tahun depan lebih besar dibandingkan penawaran. Bahkan ada kemungkinan terjadi defisit suplai, katanya, belum lama ini.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top